Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Anak Arjuna Tak Setia? Demi Keturunan, Abimanyu Rela Meninggalkan Istri Tercinta

Ki Damar • Jumat, 30 Mei 2025 | 03:50 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Siti Sundari
Ilustrasi tokoh wayang Siti Sundari

Seri Cerita Wayang oleh Ki Damar*

RUMAH tangga Abimanyu dan Dewi Siti Sundari, putri Prabu Kresna, tampak bahagia di awal pernikahan.

Namun seiring berjalannya waktu, Abimanyu mulai merasa ada kekosongan dalam hatinya.

Bukan karena pertengkaran, melainkan karena satu hal yang bagi dirinya sangat penting: keturunan.

Berbulan-bulan menikah tanpa tanda-tanda kehamilan membuat Abimanyu gelisah. Ia meratapi kesendirian meski telah beristri.

Dalam benaknya, anak adalah penerus darah Pandawa, juga wadah untuk mewarisi wahyu-wahyu sakti yang telah ia peroleh selama hidup.

Dalam kegundahannya, Abimanyu memanggil Gatutkaca, kakak sekaligus sahabat terdekatnya, untuk datang ke Dwarawati.

Ia ingin mendengar nasihat sang kakak mengenai keinginannya untuk menikah lagi demi memperoleh keturunan.

Gatutkaca meminta sang adik untuk bersabar, karena semua adalah urusan waktu dan kehendak dewata. Tapi Abimanyu tak bisa menunggu lebih lama.

“Jika aku tak segera punya anak, orang akan meragukan kejantananku dan harga diriku sebagai kesatria,” ungkap Abimanyu.

“Lagipula, wahyu-wahyu itu bukan untukku sendiri. Itu titipan untuk kelangsungan darah Pandawa.”

Gatutkaca mulai khawatir. Ia bertanya, siapa perempuan yang ada dalam benak adiknya.

Ternyata, Abimanyu telah menaruh hati pada Dewi Utari, putri kerajaan Wirata yang secara silsilah masih merupakan cucu dari pihak eyang.

Gatutkaca menyarankan agar Abimanyu tidak gegabah, tapi tak kuasa membendung niat sang adik.

Maka ia hanya bisa berpesan agar berhati-hati, dan jangan sampai menyakiti hati Siti Sundari secara terang-terangan.

Tanpa memberi tahu istrinya, Abimanyu meninggalkan istana Dwarawati untuk menuju Wirata.

Sementara itu, Siti Sundari diungsikan ke Pringgondani, wilayah Gatutkaca, dengan alasan agar lebih mudah menjaga dan menutupi keberadaan Abimanyu.

Namun, rasa penasaran Siti Sundari makin besar. Ia heran, mengapa harus tinggal di Pringgondani, bukan di Madukara atau Plangkawati, tempat kediaman resmi keluarga Pandawa.

Kecurigaannya perlahan tumbuh, dan kenyataan pun akan segera terkuak.

Kisah ini menunjukkan bahwa dalam dunia pewayangan, pernikahan bukan hanya soal cinta, tapi juga tentang garis darah, kehormatan, dan takdir kerajaan.

Abimanyu tidak bermaksud menyakiti, tapi niatnya untuk menjaga kelanjutan nasab Pandawa membuatnya harus mengorbankan perasaan istri yang mencintainya.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Pandawa #abimanyu #Sundari #Tokoh #wayang