Cerita Wayang oleh Ki Damar*
DI balik nama besar Resi Durna, terdapat masa muda penuh luka dan pengkhianatan yang membentuk wataknya kelak.
Sebelum menjadi guru para Pandawa dan Kurawa, ia dikenal sebagai Kumbayana, putra Prabu Baratwaja dari negeri Atasangin dan murid terbaik Resi Rama Bargawa.
Saat masa mudanya, Kumbayana bersahabat erat dengan sesama murid bernama Raden Sucitra, yang kelak menjadi Raja Pancala dengan gelar Prabu Drupada.
Persahabatan itu berjalan erat hingga takdir membawa mereka pada jalan yang saling bertolak belakang.
Datang dengan Niat Baik, Dibalas dengan Penghinaan
Suatu hari, Kumbayana memutuskan datang ke Pancala untuk mengucapkan selamat kepada sahabat lamanya.
Ia merasa bahagia melihat Sucitra berhasil naik tahta sebagai raja. Namun, niat tulus itu tak mendapat sambutan hangat.
Prabu Drupada yang telah tinggi hati karena kedudukan, merasa risih dengan Kumbayana yang tampil sederhana dan sok akrab.
Kumbayana bahkan menyuruh Gandamana, pengawal istana, menghajar Kumbayana hingga babak belur.
Terhina dan hancur hati, Kumbayana bersumpah akan membalas luka itu suatu hari nanti.
Menjadi Guru Kerajaan Astina dan Membalas Dendam
Luka batin itu membawanya menghadap Resi Bisma di Astina.
Ia menyatakan niat menjadi guru bagi para putra Hastinapura.
Resi Bisma sangat senang, karena Durna berasal dari garis keilmuan Resi Rama Bargawa, sama sepertinya.
Setelah bertahun-tahun mendidik Pandawa dan Kurawa, Kumbayana akhirnya menggunakan murid-muridnya untuk menaklukkan Pancala, negeri sahabat lamanya yang telah mengkhianatinya.
Dalam pertempuran itu, Drupada berhasil ditaklukkan.
Durna, yang telah bergelar resi, memaksa Drupada menyerahkan secengkal tanah untuk tempat pertapaan.
Bila tidak, nyawanya menjadi taruhan.
Drupada tak punya pilihan selain tunduk. Ia memberikan sebidang tanah yang kemudian menjadi pertapaan Sukalima, tempat Durna melanjutkan laku hidupnya.
Namun sejak saat itu, dendam Drupada kepada Durna pun tak kalah membara. Dari sinilah kisah kelam kelak akan melahirkan konflik besar dalam perang Baratayudha.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani