Cerita Wayang oleh Ki Damar*
RADEN Bima atau Werkudara adalah tokoh paling kuat di antara lima Pandawa.
Namun tidak banyak yang tahu bahwa ia bukan dilahirkan seperti manusia biasa.
Ia dikenal sebagai “bungkus” karena terlahir dalam kondisi tertutup plasenta yang tidak bisa dipecahkan, bahkan oleh senjata para dewa.
Bima adalah putra sulung Prabu Pandu Dewanata dari Kerajaan Hastina dan Dewi Kunti Talibrata dari Mandura.
Namun karena ia tak kunjung keluar dari bungkusnya, Kunti dianggap hanya memiliki satu anak: Puntadewa, yang lahir normal setahun setelah “bungkus” muncul.
Disembunyikan di Hutan Mandalasara
Atas petunjuk Begawan Abiyasa, bayi dalam bungkus itu disimpan di hutan Mandalasara, bukan untuk dibuang melainkan agar bisa menyerap energi alam.
Sang “bungkus” dibiarkan hidup dalam sunyi, terlindung dan menyatu dengan kekuatan semesta.
Tepat saat usianya mencapai dua belas tahun, langit mengutus seekor gajah sakti bernama Gajah Seno.
Makhluk ini datang membawa misi khusus: membedah bungkus yang menyelubungi anak Pandu.
Dengan gadingnya yang sakti, Gajah Seno berhasil merobek lapisan plasenta tersebut.
Lahir dari dalamnya, seorang pemuda gagah yang tubuhnya telah tumbuh sempurna akibat bertapa tanpa sadar selama dua belas tahun.
Bima Membunuh Gajah Seno dengan Sekali Pukulan
Tanpa banyak bicara, sang pemuda memukul Gajah Seno dengan satu pukulan maut.
Tubuh Gajah Seno pun hancur dan roh serta kekuatannya menyatu dengan pemuda itu.
Bahkan, gading Gajah Seno berubah menjadi senjata sakti berupa kuku pancanaka yang menjadi ciri khas Bima hingga akhir hayatnya.
Setelah itu, pemuda tersebut diberi nama Bratasena. Nama ini mengandung makna: “Brata” berarti prihatin atau bertapa, sedangkan “Sena” adalah nama gajah yang membebaskannya dari bungkus.
Sejak saat itu, Bratasena yang kemudian lebih dikenal sebagai Werkudara atau Raden Bima tumbuh menjadi ksatria yang memiliki kekuatan luar biasa, teguh memegang keadilan, dan tak pernah ingkar janji.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani