Cerita Wayang oleh Ki Damar*
SETELAH Duryudana resmi dinobatkan sebagai raja Astina, Prabu Destarata mulai merasa menyesal.
Sebab, kabar bahwa Pandawa telah tewas ternyata tidak benar—mereka masih hidup dan bersembunyi.
Dalam kekuasaan seorang raja maupun brahmana, dikenal istilah "sabda brahmana pangandikaning ratu", yang berarti perkataan seorang pemimpin tak boleh ditarik kembali.
Maka untuk menebus kehormatan Pandawa, mereka pun diberi wilayah berupa hutan luas yang bernama Wanamarta.
Hutan Wanamarta dikenal angker dan belum pernah dihuni manusia.
Namun Pandawa, yang tidak pernah mengharap sepetak tanah dari Astina, tetap menerima keputusan tersebut.
Bagi Bima, bisa hidup bersama ibu dan saudara-saudaranya sudah menjadi karunia terbesar dari Tuhan. Maka ia pun tidak menolak perintah itu.
Dengan tekad dan persatuan, kelima Pandawa mulai membabat hutan Wanamarta. Usaha mereka tidak sia-sia.
Kehadiran Begawan Wilawuk membuka rahasia besar: hutan ini bukan sembarang hutan, melainkan bekas kerajaan agung yang dibentuk Batara Indra sebagai tandingan Hastinapura.
Wilawuk pun menyerahkan pusaka Sela Timpura, alat untuk menjinakkan para jin penjaga hutan.
Rupanya, istana tua di tengah hutan itu masih didiami oleh lima jin yang memiliki rupa dan sifat mirip Pandawa.
Mereka dikenal sebagai Jin Yudistira, Jin Dandunwacana, Jin Suparta, Jin Nakula, dan Jin Sadewa.
Dengan kekuatan persaudaraan dan restu dewa, Pandawa berhasil menaklukkan kelima makhluk itu. Para jin pun akhirnya menyatu—manunggal—ke dalam jiwa masing-masing Pandawa.
Dari sinilah berdiri kerajaan baru yang megah, yang kelak dikenal sebagai Indraprastha—lambang kejayaan, kebersamaan, dan kebangkitan Pandawa.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani