Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerita Wayang: Penebusan Dosa Seorang Ibu sebelum Dibunuh Anak Kandung

Ki Damar • Kamis, 5 Juni 2025 | 04:33 WIB
Ilustrasi ayah, anak, dan ibu yang berdosa dalam cerita wayang.
Ilustrasi ayah, anak, dan ibu yang berdosa dalam cerita wayang.

LEMBAR halaman cerita wayang menyimpan sejarah kelam. Sebuah kisah tragis tentang keluarga seorang begawan.

Yakni, Begawan Risanggeni yang juga dikenal sebagai Begawan Jamadagni. Dia seorang resi sakti mandraguna meski sudah tua.

Hidupnya tenang di tengah hutan bersama istri yang masih muda dan cantik bernama Dewi Renuka.

Hari-hari mereka berlalu dalam sunyi dan suci, hingga datang suatu siang yang mengoyak segala ketenangan itu.

Hari itu, seorang raja bernama Citrarata tengah berburu di hutan. Setelah lelah mengejar rusa, sang raja singgah di sebuah telaga untuk mandi.

Citrarata bukan sembarang raja. Dia tampan, gagah, dan memiliki suara merdu yang mampu mengguncangkan kalbu perempuan mana pun yang mendengarnya.

Dewi Renuka yang sedang memetik sayuran di pinggir hutan tak sengaja melihat sosok Citrarata yang tengah mandi dan bersenandung.

Pandangannya tak bisa lepas. Hatinya yang selama ini terkungkung dalam kesunyian padepokan, tiba-tiba diguncang gelombang gairah yang tak tertahan.

Gugurlah imannya. Norma dan kesetiaan yang selama ini dia junjung lenyap dalam sekejap.

Dengan nekat dan perlahan, Dewi Renuka melepaskan busananya. Tanpa rasa malu, dia berenang mendekati sang raja, menuruti birahi yang selama ini terpendam dan tak tersalurkan.

Namun dosa tak bisa sembunyi dari langit. Begawan Jamadagni, sang suam, mengetahui pengkhianatan itu.

Hatinya hancur. Amarahnya meletup-letup. Dia murka kepada istrinya.

Tanpa pikir panjang, Jamdagni memerintahkan putranya yang bernama Rama Bargawa alias Ramaparasu untuk membunuh Dewi Renuka yang tak lain ibu kandungnya.

Perintah itu seperti petir di siang bolong. Rama Bargawa, seorang anak yang begitu patuh kepada ayahnya, terdiam dalam dilema.

Hatinyalah yang pertama hancur, sebab ibunya adalah sosok yang dia cintai dan muliakan. Namun di hadapannya, berdiri sang ayah dengan titah mutlak sebagai seorang begawan.

Dengan berat hati, Rama mengangkat senjata. Sebelum tragedi itu terjadi, Dewi Renuka yang menyadari kesalahannya melangkah maju mendekati putranya dan berkata lirih,

“Jangan cemari tanganmu, anakku. Biar aku yang menebus dosaku sendiri.”

Tanpa menunggu, Dewi Renuka menusuk dirinya sendiri. Darah mengalir di tanah yang sakral.

Dia gugur bukan karena senjata suami atau anak, tapi karena kehormatan yang ingin dia tebus dengan nyawa.

Tragedi itu membekas dalam sejarah pewayangan. Cerita wayang ini bukan hanya tentang pengkhianatan dan kemarahan, tapi juga tentang seorang ibu gugur karena penebusan dosa.

Seorang anak yang kehilangan ibunya oleh kepatuhan ke ayah. Dan seorang ayah hidup dalam bayang-bayang amarah yang tak pernah selesai. (*/den)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

Editor : Deni Kurniawan
#sejarah #pewayangan #Risanggeni #begawan #Rama Bargawa #Cerita Wayang #renuka