Jawa Pos Radar Madiun - Tak hanya kutukan Resi Kimindana, ternyata Raja Pandu juga pernah mendapat supata (kutukan) dari Batara Guru.
Kisah ini terjadi saat Pandu menghadap ke Kahyangan Suralaya, demi memenuhi permintaan istimewa sang istri, Dewi Madrim, yang tengah ngidam.
Pada masa itu, Dewi Madrim mengidam sesuatu yang tidak biasa. Maka, demi cintanya, Pandu menghadap langsung ke Kahyangan Suralaya dan menyampaikan keinginan sang istri kepada Hyang Jagad Girinata alias Batara Guru.
Meski sikap Pandu tergolong nekat karena sebagai manusia ia tak pantas bertindak sembarangan di hadapan para dewa, Batara Guru dan para Dewa tidak serta-merta menolak.
Karena alasan ngidam dianggap suci dan sakral dalam budaya Jawa, maka permintaan Pandu tetap dikabulkan. Ia pun diberikan Lembu Andini, hewan suci penuh simbolisme.
Namun masalah muncul saat Pandu bertindak ceroboh dan penuh kesombongan. Ia justru naik ke punggung Lembu Andini di hadapan para Dewa, sebuah tindakan yang dianggap sangat tak sopan.
Melihat itu, Batara Guru murka dan langsung melontarkan kutukan:
"Sungguh, Pandu orang tengeng yang tak bisa menoleh pada dirinya sendiri. Hukuman yang setimpal hanyalah neraka!"
Kutukan itu bergema keras, dan seketika alam semesta pun bereaksi. Bumi berguncang, angin berhenti berhembus, gunung meletus, laut berombak tanpa sebab, dan sungai-sungai meluap.
Peristiwa ini disebut "gara-gara", yaitu gangguan alam karena ulah manusia yang mengusik keharmonisan.
Lahirnya Nakula dan Sadewa
Meskipun terkena kutukan, tidak lama setelah peristiwa itu Dewi Madrim melahirkan anak kembar, yang kelak dikenal sebagai Nakula dan Sadewa, dua tokoh Pandawa termuda yang terkenal bijak dan tampan.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani