Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Asal-Usul Semar yang Tak Banyak Diceritakan Dalang, Arti Nama Tokoh Wayang Ini Begitu Dalam

Ki Damar • Sabtu, 14 Juni 2025 | 01:15 WIB
Ilustrasi lakon wayang Semar Mbabar
Ilustrasi lakon wayang Semar Mbabar

Jawa Pos Radar Madiun - Pemilihan pengganti Sanghyang Tunggal sebagai penguasa Suralaya menjadi babak penting dalam kisah pewayangan klasik.

Ketika langit tak lagi dipimpin oleh Sanghyang Tunggal, para dewa berlomba-lomba mengincar tahta sebagai Dewa Utama.

Maka, diadakanlah sayembara: siapa pun yang mampu mencapai Bale Mercupunda (tempat tertinggi di Kahyangan) tanpa melorot, akan diangkat sebagai penguasa Suralaya.

Dalam uji spiritual tersebut, Sanghyang Tismaya berhasil mencapainya tanpa tergelincir. Ia pun dinobatkan sebagai Batara Guru, pemimpin tertinggi para dewa.

Namun, tak semua bernasib sama. Sanghyang Ismaya (juga dikenal sebagai Sanghyang Munged) gagal.

Ia melorot dan jatuh ke bumi. Namun, kegagalannya justru menyingkap takdir lain yang lebih luhur.

Dalam proses jatuhnya itu, Ismaya justru memperoleh jimat sakti Layang Kalimasada dari Bale Mercupunda.

Dalam tafsir budaya Jawa-Islam, Kalimasada sering diartikan sebagai Kalimat Syahadat.

Namun dalam versi asli pewayangan, jimat ini disebut sebagai Kali Maha Usada, kitab suci tentang ilmu pengobatan milik Dewi Kali.

Setelah tiba di bumi, Sanghyang Ismaya mencari majikan untuk mengabdi. Takdir mempertemukannya dengan Palasara, raja muda yang kelak akan memimpin Astina.

Palasara menyanggupi menerima Ismaya sebagai abdi dan panakawan, dengan satu syarat: ia harus mengubah wujudnya menjadi buruk rupa.

Ismaya pun merelakan kesaktiannya. Ia membuka pembungkus jimat Kalimasada dan menempelkannya ke tubuhnya sendiri.

Tubuhnya berubah drastis, wajah tokoh wayang ini menjadi jenaka namun bijaksana.

Sejak saat itu, ia dikenal sebagai Semar, berasal dari kata Samar, yang berarti terselubung atau tak tampak hakikat sejatinya.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Punakawan #Tokoh #semar #wayang