Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“Paman Sengkuni, aku sepakat denganmu. Maafkan aku, eyang Bisma, aku tak bisa mengikuti petuah paduka,” kata Duryudana mantap, matanya mengarah pada kakek buyutnya.
Resi Bisma hanya menghela napas dalam. Kecewa tergambar jelas di raut wajahnya.
“Baiklah, Putu Prabu. Aku tak akan ikut campur lebih jauh. Tapi ketahuilah, keputusanmu pada sang duta pamungkas akan menjadi titik sejarah. Entah membawa terang, atau menjerumuskan kita dalam kelam perang saudara.”
Tak lama berselang, muncullah Prabu Sri Batara Kresna di pelataran istana Astina. Para tamu dan bangsawan menundukkan pandang.
Aura kedewataan yang memancar dari raja Dwarawati itu membuat semua yang hadir diam membatu.
Tak ada yang berani menatap langsung wajahnya. Bahkan Duryudana yang semula garang, kini jantungnya berdebar kencang kala Kresna menjejakkan kaki ke balairung.
“Aku yakin, Yayi Prabu sudah tahu maksud kedatanganku,” ujar Kresna lirih, tapi tegas.
Duryudana menjawab sinis, “Tentu tahu. Ini adalah kunjungan ketiga dari pihak Pandawa untuk meminta Astina. Sungguh tamak, bahkan duta pun sampai tiga kali. Pandawa benar-benar tak tahu malu. Mengemis terus-menerus!”
Kresna tersenyum, namun tatapannya berubah tajam.
“Ini bukan soal malu atau mengemis. Ini tentang janji kalian sendiri setelah permainan dadu itu. Janji yang kalian khianati!”
Baca Juga: Singkong Rebus Daun Jeruk dan Jahe: Camilan Tradisional yang Sederhana, Hangat, dan Harum
Duryudana berdiri, pura-pura menguap. “Ah, aturan apa? Aku sudah lupa. Itu sudah tiga belas tahun lalu. Pulang saja, Kakanda Prabu Kresna. Aku penat.”
“Haha... sungguh congkak!” Kresna berdiri, tinggi dan agung.
“Seorang raja datang sebagai duta, malah hendak kau usir. Kau tidak tahu siapa diriku? Aku hanya menanyakan satu hal. Apakah kau bersedia menyerahkan hak Pandawa atas separuh Astina, atau tidak?”
Sengkuni menyela cepat, “Jawab saja, anak Prabu. Tak perlu takut, Kresna hanya menggertak!”
Duryudana menggertakkan gigi. Lalu dengan suara lantang ia berseru, “Dengar semua yang hadir di balairung Astina ini! Aku hanya akan menyerahkan Astina pada Pandawa bila Duryudana telah menjadi mayat! Hahaha...”
Baca Juga: Bonus Persib Bandung Tuai Polemik, Gubernur Jabar KDM Pilih Berikan Duitnya untuk Warga Karawang
Tawa Kurawa membahana. Tapi suasana mendadak mencekam. Kresna menatap Suyudana dengan mata membara.
Tiba-tiba, raja muda itu gemetar. Dalam tatapan Kresna, ia melihat bayang-bayang Werkudara berjumlah seribu, mengangkat gada rujakpolo di sisi kanan.
Di sisi kiri, seribu Arjuna mengacungkan panah. Duryudana pucat, lututnya lemas, dan jatuh pingsan.
“Cepat bawa Raja ke kedaton! Dan tangkap Kresna!” teriak Sengkuni panik.
Kurawa pun bergerak, mengeroyok. Tapi tak satu pun dari mereka bisa melukai tubuh sang duta pamungkas. Ketika mahkota Kresna terjatuh dan disentuh oleh Citrawikrama, tubuh mereka terpental, seakan menyentuh bara.
“Apa ini? Mengapa aku memegang bulu lebat?” tanya Durmagati bingung.
Baca Juga: Lakon Wayang Bima Racun 1, Siasat Gelap Kurawa Dimulai
“Ini keras! Apa ini?” jawab Citraksi tergagap. Dursasana berteriak, “Aduh! Apa ini jadi membesar?!”
Kresna pun berubah wujud. Ia menjelma menjadi sosok raksasa yang maha besar, menggelegar bak brahala kalamertyu. Suara menggemuruh keluar dari mulutnya. Para Kurawa terhempas, ketakutan.
“Wahai Kurawa! Bila kalian merasa sakti, mari keroyok aku! Hari ini, jika berani, semua dari kalian akan mati bersamaku!”
Langit berubah muram. Petir menyambar.
Para dewa di kahyangan panik. Batara Narada, Batara Kanwa, Batara Janaka, dan Resi Rama Parasu turun tergopoh.
“Pukulun, tenangkan Kresna. Jangan biarkan kemarahannya melenyapkan Astina sebelum waktunya,” seru Kanwa.
Narada mendekat dan memeluk sosok raksasa itu. “Ngger... Kresna, sadarlah. Ingat lakon yang telah ditetapkan para dewa. Baratayudha adalah panggilan suci. Jangan habiskan murkamu hari ini.”
Tubuh brahala pun perlahan surut. Prabu Kresna kembali ke wujud manusia. Ia menunduk, menitikkan air mata. “Terima kasih, Pukulun. Aku sadar. Waktuku belum tiba.”
Narada menatap lembut. “Pergilah kembali ke Wirata. Sampaikan kabar ini pada Pandawa. Baratayudha akan benar-benar terjadi. Karena Suyudana telah mengingkari janjinya.”
Dengan langkah tenang, Prabu Kresna naik ke kereta Kyai Jaladara. Laju roda kereta membelah senja. Perang besar pun kini tinggal menunggu waktu.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani