Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Kekhawatiran menggantung di wajah Prabu Drupada. Di hadapannya, satu demi satu satria tumbang di tangan Gandamana, sang adik ipar yang justru membuat sayembara peminangan Putri Drupadi kian tak masuk akal.
Sebagai ayah, Drupada mulai gelisah. Jika tak satu pun berhasil menaklukkan Gandamana, maka bukan hanya nama besar Pancala yang dipertaruhkan, tapi juga harga diri keluarga.
“Apa yang akan kamu lakukan, Gandamana?” suara Drupada nyaring dalam nada gusar.
“Bila terus seperti ini, keponakanmu tidak akan menikah. Apakah kau ingin membuat anakku Drupadi menjadi prawantua dan membuat aku malu di hadapan para raja?”
Namun, di balik semua itu, Gandamana menyimpan maksud terdalam. Ia bukan sekadar menjaga kehormatan sayembara, tapi juga menghidupi satu janji lama yang telah melekat dalam batinnya.
Ia melangkah mendekat, lalu berkata lirih.
“Maafkan hamba, Kaka Prabu. Di dalam benakku tidak pernah ada niat mengecewakan paduka. Tapi dahulu, Prabu Pandu, kakang kita, pernah berpesan bahwa anak-anaknya akan dipasrahkan kepadaku. Kebahagiaan mereka, adalah tanggung jawabku.”
Drupada terdiam. Ia belum memahami benar maksud ucapan itu.
“Apa maksudmu, Man? Apa hubungannya dengan Pandu yang telah suwargi itu?”
Gandamana menarik napas panjang, lalu menundukkan kepala dengan hormat.
“Aku berharap, kelak yang datang dan meminang Drupadi adalah para Pandawa. Karena itu aku yang memilih menguji setiap satria yang datang. Sebab aku ingin menanti mereka.”
Ia meyakini Pandawa akan hadir ke Pancala. Ia percaya Bhimasena, murid yang pernah diasuh dan ditempa dengan keras, pasti memahami sandi tersembunyi dalam pengumuman sayembara.
“Aku menulis bahwa ‘setiap ilmu harus diamalkan, karena seorang guru ingin tahu batasan ilmu yang dimilikinya.’ Itu adalah bahasa yang dulu sering aku sampaikan kepada Bima. Jika ia masih hidup, ia pasti paham dan datang.”
Drupada tersenyum miris, antara kagum dan iba.
“Apakah kamu belum tahu, Man? Seluruh Pandawa telah mati dalam insiden Bale Gala-Gala. Bukankah kabar itu sudah menyebar ke seluruh negeri?”
Namun Gandamana tetap tak goyah. Keyakinannya tegak seperti tombak yang menancap di tanah. Dalam hatinya, ia tahu, jika Bhima masih mengingat ajaran gurunya, maka langkah kaki Pandawa akan sampai di Pancala. Dan saat itulah, sayembara akan benar-benar dimulai.
(bersambung/*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani