Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*
Dalam dunia pewayangan Jawa, Arjuna dikenal sebagai satria panengah Pandawa yang punya banyak nama: Permadi, Janaka, Dananjaya, Parta, Kuntadi, hingga Ciptaning.
Ia bukan hanya dikenal karena ketampanan dan keperkasaannya, tetapi juga karena kerajinannya bertapa, mencari kesempurnaan spiritual dan sering menerima wahyu dari para dewa.
Beberapa wahyu terkenal yang diterima Arjuna antara lain Wahyu Makutarama, Wahyu Tohjali, dan Wahyu Katentreman.
Dalam tradisi pedalangan, lakon-lakon pewayangan seringkali diciptakan khusus seputar kisah Arjuna dan pencarian wahyu.
Ini menunjukkan betapa tokoh Arjuna sangat dekat dengan nilai-nilai masyarakat Jawa, khususnya ajaran moral dan kepemimpinan.
Namun, di balik semua itu, tersimpan sebuah pertanyaan mendalam tentang niat sejati Arjuna.
Apakah ia bertapa demi kemaslahatan rakyat, atau justru demi ambisinya agar anak dan keturunannya kelak bisa menjadi raja di tanah Jawa?
Wahyu Makutarama bukan sekadar anugerah. Ia adalah ajaran luhur tentang kepemimpinan, yang kelak dikenal sebagai Hasta Brata, yakni delapan sifat pemimpin ideal yang diambil dari unsur alam yakni matahari, bulan, bintang, angin, air, api, bumi, dan samudra.
Wahyu ini diberikan kepada Arjuna sebagai bekal mencetak penerus yang bisa memimpin negeri.
Namun, dalam kisah yang jarang dibicarakan, Arjuna disebut meminta sendiri wahyu tersebut kepada dewa, agar keturunannya bisa menjadi penguasa tanah Jawa.
Di sinilah muncul sisi ambigu. Arjuna sebagai satria yang mulia, atau Arjuna sebagai pribadi yang diam-diam menyusun ambisi dinasti?
Sebagai tokoh utama dalam Mahabharata versi Jawa, Arjuna dikenal memiliki banyak istri dan anak dari berbagai kerajaan.
Namun, pilihan Arjuna dalam mendidik dan mempersiapkan salah satu anaknya untuk menjadi raja, sering kali memicu kecemburuan dan ketidakadilan di antara anak-anak dan istri lainnya.
Sebagian orang menganggap Arjuna tidak adil. Ia lebih fokus membimbing satu anak untuk meneruskan ilmunya, sementara anak lainnya seolah hanya menjadi bayang-bayang. Ketegangan ini sering dijadikan sumber konflik dalam berbagai lakon pewayangan alternatif.
Ia memang digambarkan sebagai tokoh suci, suka menyepi, dan menghindari gemerlap dunia.
Tapi jika wahyu yang ia dapatkan kemudian digunakan untuk membangun kekuasaan bagi anaknya sendiri, maka sifat egoisme dan politik dinasti pun muncul dari bayangannya yang selama ini tampak suci.
Namun begitu, sebagian dalang dan ahli budaya tetap memandang Arjuna sebagai tokoh positif.
Ia dianggap mewakili sosok pemimpin ideal yang tidak hanya mencari kekuasaan, tapi juga membekali diri dengan spiritualitas dan kesabaran agar tidak salah dalam memilih pemimpin masa depan.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani