Lakon wayang Sadewa Krida oleh Ki Damar*
KEGELISAHAN menyelimuti istana Amarta. Beberapa hari terakhir, Raja Amarta, Prabu Puntadewa, tidak tampak keluar dari kedaton. Drupadi, sang permaisuri, hanya bisa menangis mencari suaminya yang tak kunjung muncul.
“Wah, bagaimana ini? Punta mbarepku sudah beberapa hari tidak keluar dari istana. Drupadi selalu menangis, dan kami tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimana menurutmu, Arjuna?” tanya Bima dengan wajah cemas.
Arjuna menunduk. “Duh, Kakang Mas. Orang seberani dan seteguh paduka saja sampai gelisah, lalu aku bisa apa?”
Bima lalu menoleh ke arah Semar, sang punakawan. “Kakang Semar, bagaimana ini?”
Semar menjawab tenang, “Ndara kula, negara ini sudah berjalan dengan sistem pemerintahan yang tertata. Walau Sinuwun Puntadewa tak tampak beberapa hari, pemerintahan tetap aman,''.
''Sebab para pejabat dan punggawa sudah tahu pokok tugas dan kewenangannya. Berbeda dengan negeri lain, jika tak paham wewenang, meskipun ada pemimpinnya, pemerintahan justru kacau. Malah mereka seenaknya saat raja tak ada,” lanjut Bima.
Arjuna menimpali, “Benar juga, Kakang Semar. Tapi kesedihan Mbakyu Drupadi dan Ibu Kunti tidak boleh diabaikan. Mereka berdua terus khawatir,”.
Bima mengangguk. “Ya, apalagi Puntadewa hampir tak pernah keluar istana. Bagaimana kami bisa tenang jika ia tiba-tiba menghilang?”.
Tak lama kemudian, seorang pemuda bernama Raden Darmasarana datang ke istana. Ia mengaku mendapat wangsit agar duduk di singgasana Amarta supaya rakyat kembali tenteram.
Bima langsung tersulut amarah. “Dasar orang tak tahu diri! Datang-datang ingin jadi raja. Dewa mana yang mewangsit dirimu? Semua dewa tahu, singgasana Amarta hanya milik Puntadewa, kakakku yang sulung!”.
Sadewa kemudian maju ke depan. Dengan wajah serius ia menatap Darmasarana.“Kenapa kau begitu bersikeras ingin duduk di singgasana?” tanyanya.
Ketegangan pun semakin terasa di istana Amarta. (den)
*Penulis lakon wayang Sadewa Krida alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan