Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Gunadewa Gugur 2, Hidup dan Mati Hanya Terpisah Sehelai Rambut

Ki Damar • Selasa, 9 September 2025 | 02:00 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Raden Gunadewa
Ilustrasi tokoh wayang Raden Gunadewa

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

“Adikku,” ujar Raden Wisata lembut, “meskipun usiamu lebih muda daripada Samba, namun engkau jauh lebih dewasa. Kakakmu itu, kadang bersikap sombong hanya karena ia putra mahkota. Ia kerap berlaku semena-mena terhadap orang lain.”

“Sedangkan engkau, membuatku merasa simpati. Setiap kali menatapmu, hatiku tenteram, sejuk, bagaikan berada di dekat Rama Prabu Kresna, yang jiwanya seperti pohon besar—memberi teduh pada siapa saja di sisinya,” sambungnya.

Gunadewa menggeleng pelan.

“Aku sangat jauh berbeda dengan ayahku, Kakak. Tidak seperti penilaianmu. Bila Kakang tadi bertanya mengapa aku lebih suka tinggal di makam leluhur ini, alasannya sederhana. Pertama, aku belajar bahwa apa pun yang kita miliki—jabatan setinggi apa pun, bahkan meski disembah rakyat—pada akhirnya akan ditinggalkan. Saat mati dan dikubur, kita bukanlah siapa-siapa. Jabatan, keluarga, anak, dan harta, semua tidak bisa kita bawa.”

Raden Wisata terdiam, merenung dalam hati.

Gunadewa melanjutkan.

“Dan yang kedua, aku belajar di sini bahwa hidup dan mati hanya terpisah sehelai rambut. Artinya, kematian begitu dekat. Bila manusia lupa akan mati, ia menjadi sombong, lalai, dan sering bertindak semaunya.”

Kata-kata itu membuat Wisata menunduk, malu.

“Semoga aku tidak menjadi orang seperti itu, Adikku. Aku sungguh merasa malu atas pertanyaan-pertanyaanku tadi. Maafkan aku, Yayi. Tahta kerajaan memang sering membutakan manusia. Kadang kekuasaan membuat seseorang menghalalkan segala cara demi meraihnya.”

Belum sempat Gunadewa menjawab, tampak seorang utusan datang tergesa-gesa. Dialah Patih Pancatnyana dari Kerajaan Trajutrisna. Dengan suara lantang ia berkata, “Pergilah kalian semua!”

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Kresna #Trajutisna #Lakon #wayang