Lakon wayang Anjang Anjang Kahyangan oleh Ki Damar*
PERTEMPURAN sengit terjadi di alun-alun Negara Dwarawati. Sementara itu, di dalam istana, Prabu Kresna sedang bermusyawarah bersama kakaknya Prabu Baladewa dan para Pandawa.
Baladewa tampak terguncang. Ia jatuh pingsan beberapa kali setiap menerima laporan dari Arjuna tentang tewasnya Wisata, anak semata wayangnya, yang dibunuh prajurit Trajutrisna.
Dengan mata berkaca-kaca, Baladewa duduk di hadapan Kresna.
“Kau harus menghukum anakmu, Yayi Prabu Kresna. Bagaimana aku bisa ikhlas? Anakku mati dibunuh! Bila kau tidak menghukum mereka, aku sendiri yang akan turun tangan. Dan jika aku mati pun, aku akan bangga, karena gugur bersama anak yang kucintai,” ucap Baladewa penuh amarah namun tak kuasa menahan air mata.
Prabu Kresna menjawab dengan tenang namun tegas.
“Kakang Prabu Mandura, jangan mengira aku akan melindungi anakku, Boma. Dia akan menerima balasan setimpal. Sebagai titisan Hyang Wisnu, tugasku menegakkan keadilan, bahkan kepada keluargaku sendiri. Jika salah, dia tetap akan kuberi hukuman,” tegas Kresna.
Mendengar itu, Baladewa berdiri. “Bagus, kalau begitu! Mari kita keluar dan membalas dendam!” serunya dengan semangat.
Kresna lalu berkata, “Aku akan mengenakan baju perangnya. Kakang Prabu, silakan keluar dahulu. Gatutkaca, tetaplah di sini menunggu. Kau akan keluar bersamaku.”
Setelah itu, Kresna memasuki ruang khusus dan memanggil Batara Wisnu.
“Kenapa kau ragu-ragu, Kresna? Apa sebenarnya yang akan kau lakukan?” tanya Batara Wisnu, yang hadir di hadapan sang raja.
Ketegangan di istana semakin memuncak, pertanda bahwa pertempuran besar akan segera pecah. (*)
*Penulis lakon wayang Anjang Anjang Kahyangan alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan