Lakon wayang Begawan Tambrapeta oleh Ki Damar*
DI tengah hutan, suara menggelegar terdengar.
“Kau mau menemui Semar? Atau Batara Guru? Kami tak peduli!” bentak Kalajaya dengan mata melotot.
“Serahkan kedua anakmu. Mereka adalah sukerta kembang sepasang. Jika kau tidak rela, maka bencana akan menimpamu!”
Endang Soka maju selangkah, suaranya lirih namun tegas.
“Jangan bunuh ayahku. Jika harus ada korban, biar aku dan adikku yang mati. Aku tak sanggup membuat Bapa menderita.”
Kalajaya tertawa terbahak.
“Lihat adik-kakak ini, Kalantaka. Mereka cantik sekali, bahkan bidadari kahyangan pun kalah.”
Kalantaka mendekat, “Benar, Kakang. Sayang kalau hanya dimakan. Bagaimana kalau kita nikahi saja?”
Begawan Tambrapeta semakin gusar.
“Bunuh aku saja! Lepaskan mereka berdua. Mereka masih punya masa depan.”
Namun Kalajaya menggeleng.
“Tidak! Kau terlalu tua, dagingmu pahit. Kami ingin mereka!”
Mendengar ancaman itu, Begawan Tambrapeta segera menarik kedua putrinya.
Mereka berlari sekuat tenaga menembus hutan. Raksasa Kalajaya dan Kalantaka langsung mengejar dengan suara langkah yang mengguncang tanah.
Di kejauhan, Kyai Semar sedang bertapa bersama Nakula dan Sadewa. Mereka tengah menunggu wangsit dari para dewa.
Semar mendadak membuka mata dan berkata,
“Nakula, Sadewa, dengar! Ada suara minta tolong. Cepat cari sumber suara itu!”
Nakula dan Sadewa bergegas berlari menuju sumber suara, siap memberi pertolongan bagi siapa pun yang sedang dalam bahaya. (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Begawan Tambrapeta alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan