Lakon wayang Gandamana Timbul oleh Ki Damar*
ANAK-ANAK Prabu Temboko dari Pringgondani memancing Gandamana agar berlari menuju perangkap yang telah dipersiapkan.
Sebuah lubang besar sudah digali untuk menjebak Gandamana. Namun, di balik rencana itu, para Kurawa juga menyiapkan strategi licik.
Di pinggir hutan, para Kurawa bersiap melepaskan panah ke arah Gandamana dan putra-putra Pringgondani.
“Paman, kenapa kita malah menyerang keduanya? Bukankah paman bekerja sama dengan Pringgondani?” tanya Dursasana bingung.
Suman hanya tertawa licik.
“Kamu ini bodoh, Dur. Aku menyerang keduanya agar mereka saling salah paham. Gandamana akan mengira serangan ini dari Pringgondani, sedangkan Arimba akan menganggap serangan ini dari Astina. Hasilnya, mereka akan saling serang,” jawabnya dengan senyum penuh tipu daya.
Dursasana mengangguk kagum. “Wah, hebat juga paman mengadu domba orang!”
Suman kemudian menjelaskan motifnya.
“Seseorang rela melakukan apa saja demi jabatan. Aku melakukan ini agar aku naik menjadi patih menggantikan Gandamana. Ini langkah awal mengkudeta Astina. Aku tidak terima bila Kakang Pandu terus menjadi raja. Aku ingin kalian, para Kurawa, yang menduduki tahta.”
“Jadi semua ini demi kami?” tanya Dursasana.
“Benar. Darah yang tumpah hari ini adalah pengorbanan demi perubahan. Kurawa akan mengadakan reformasi dan menciptakan pemerintahan yang lebih baik daripada kepemimpinan Pandu yang penuh kemunafikan,” jawab Suman tegas.
Pertempuran hebat pun pecah. Gandamana, putra-putra Pringgondani, dan para Kurawa terlibat baku hantam sengit di hutan. (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Gandamana Timbul alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan