MATA Suyudana menatap lekat-lekat para punggawa. Wajahnya tegang.
"Semar bukan sekadar abdi, dia pengejawantahan Batara Ismaya. Tidurnya di perbatasan adalah pertanda bencana! Aku khawatir dia melihat kejatuhan Astina melalui mimpi dan memberi jalan bagi Pandawa untuk menang," ungkap Suyudana.
Sengkuni terdiam, lalu angkat suara.
"Baiklah, Anak Prabu. Bila itu yang membuat paduka resah, kami akan mengusir Kyai Semar dari perbatasan!" ucapnya.
Pagi itu, Sengkuni menyiapkan pasukan kurawa.
Hujan deras mengguyur perbatasan, namun perintah tetap dijalankan.
"Lempari Semar dengan batu! Bangunkan dia, jangan pulang sebelum dia terusir dari sini!"
Para Kurawa melempari batu dan ranting ke arah Semar yang tetap terbaring.
Langit mendadak gelap, kelap-kelap. Bumi gonjang-ganjing. Petir menyambar pohon besar di dekat lokasi hingga meledak dan menimpa prajurit kurawa.
Api menjalar, menciptakan lingkaran kebakaran yang mengepung mereka.
"Paman! Kita tak bisa membangunkan Semar! Kita malah terjebak di sini. Apa yang harus kita lakukan?" teriak salah seorang prajurit.
Sengkuni menggertakkan gigi, basah kuyup oleh hujan. Dia sadar situasi semakin di luar kendali.
"Teruskan! Jangan berhenti sampai Semar bangun!"
Namun, prajurit justru sibuk menyelamatkan diri dari amukan petir dan api yang semakin mendekat. (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Semar Gugah alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan