Lakon wayang Wahyu Ayam Cemani oleh Ki Damar*
KEMARAHAN Bima memecah kesunyian.
“Kakang, kenapa harus bicara dengan teka-teki? Ini hanya akan membuat rakyat bingung!”
Namun Semar tersenyum tipis dan berkata:
“Ada satu yang bisa memahami wangsit ini – anakku, Petruk.”
Ucapan itu membuat semua yang hadir terkejut.
Setyaki bergumam:
“Kami yang pandai saja tak mengerti, bagaimana mungkin Petruk bisa tahu?”
Bima pun awalnya meragukan. Namun Semar menegaskan bahwa wangsit yang ia terima tak mungkin salah.
Mendengar ketegasan Semar, Pandawa akhirnya sadar bahwa ilmu manusia selalu ada batasnya.
Bima berkata:
“Kita tak boleh merendahkan siapapun. Kadang orang yang kita anggap bodoh justru membawa manfaat.”
Prabu Puntadewa pun segera memerintahkan Tumenggung Handakawana untuk memanggil Petruk ke istana. Setelah cukup lama menunggu, Petruk pun datang dengan senyum khasnya.
Arjuna bertanya sambil geleng kepala:
“Kenapa kau lama sekali, Truk?”
Jawaban Petruk pun akan menjadi awal dari babak penting untuk memecahkan misteri sakitnya Prabu Kresna. (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Wahyu Ayam Cemani alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan