Lakon wayang Sumali Gugur oleh Ki Damar*
MENDENGAR desakan Rahwana, Prabu Wisakarna terdiam. Raut wajahnya tampak ragu.
Wisakarna berkata:
“Raden, apakah kau ingin menjebakku? Negaraku rapuh dan kecil. Aku tak akan berani menantang Alengka. Itu hanya akan membawa kehancuran.”
Namun Rahwana tak surut. Ia justru semakin meyakinkan.
Rahwana menegaskan:
“Bila kau bersungguh-sungguh, kau akan mendapat kejayaanmu sendiri. Ingat, eyang Sumali sudah tua. Saatnya kau menuntut kemerdekaan! Aku pun akan mendukungmu. Dan kelak, aku yang akan menjadi raja di Alengka.”
Wisakarna terkejut mendengar tekad Rahwana.
Wisakarna bertanya:
“Bukankah pewaris tahta Alengka adalah Raden Prahasta atau Raden Sukesa?”
Rahwana tersenyum tipis.
Rahwana menjawab:
“Aku putra Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi, putri sulung Prabu Sumali. Aku punya hak atas tahta. Kau bantu aku, aku akan bantu kejayaanmu.”
Akhirnya Wisakarna mulai luluh.
Wisakarna berkata:
“Baiklah. Aku akan pergi ke Alengka dan meminta kemerdekaan. Aku akan membawa prajurit-prajurit terkuat.”
Rahwana mengangguk mantap.
Rahwana menambahkan:
“Benar. Bawalah semua prajurit sakti. Buktikan pada eyangku bahwa kau layak merdeka. Rakyatmu terlalu lama menderita.”
Patih Wirabajra yang mendampingi Wisakarna ikut bertanya dengan nada cemas.
Patih Wirabajra berkata:
“Apakah benar rakyatku menderita, Raden?”
Rahwana menatap serius.
Rahwana menjawab:
“Aku melihatnya sendiri. Dari tatapan mata mereka, seolah mereka ingin mengakhiri hidup. Mereka hanya bertahan karena anak dan keluarga. Hidup mereka tak layak, mati pun enggan.”
Perkataan itu menancap dalam hati Wisakarna. Inilah yang akhirnya memantapkan langkahnya untuk mendatangi Alengka. (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Sumali Gugur alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan