Lakon wayang Sumali Gugur oleh Ki Damar*
PRABU Wisakarna semakin yakin bahwa ini saatnya melepaskan diri dari cengkeraman Alengka.
Wisakarna berkata:
“Hem, patih. Dewa telah mengabulkan keinginan kita. Ada yang melihat kesengsaraan rakyat kita. Kini saatnya kita merdeka dan berdiri sejajar dengan negara lain. Bila kita kelola sendiri kekayaan negeri ini, aku yakin rakyat akan sejahtera.”
Patih Wirabajra yang sejak awal setia mendukung pun bersemangat.
Patih Wirabajra berkata:
“Benar, sinuwun! Hamba mendukung sepenuh hati. Raden Rahwana telah memulai langkah perubahan. Aku berhutang budi kepadanya.”
Namun Rahwana hanya tersenyum tipis.
Rahwana mengingatkan:
“Jangan terlalu cepat senang. Aku hanya memberi saran, bukan memintamu berperang. Mintalah kemerdekaan dengan cara baik-baik.”
Sayangnya, Wisakarna menafsirkan nasihat Rahwana berbeda.
Dalam hatinya, ia merasa kejayaan hanya bisa diraih dengan kekuatan senjata.
Ia pun memerintahkan bala tentaranya bersiap.
Wisakarna berkata: “Patih, siapkan seluruh prajurit. Kita akan menuju Alengka dan menuntut kemerdekaan!”
Rahwana yang melihat dari kejauhan hanya bisa menghela napas.
Ia ingin Alengka melepaskan negara-negara taklukannya lewat diplomasi agar kelak dikenal murah hati.
Namun keputusan Wisakarna sudah bulat. Bala tentara besar yang ia kumpulkan bergerak menuju Alengka.
Pintu gerbang yang kokoh akhirnya didobrak pasukan Wisakarna.
Dentuman senjata, teriakan prajurit, dan suara pintu raksasa yang roboh menjadi awal pecahnya konflik besar yang akan mengguncang Alengka. (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Sumali Gugur alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan