Lakon wayang Sumali Gugur oleh Ki Damar*
PEDANG Mentawa, pusaka kadewatan, berkilat di tangan Prabu Sumali. Sekali tebas bisa memisahkan kepala dari badan.
Namun Wisakarna jauh lebih muda dan lincah. Duel di istana berlangsung sengit hingga akhirnya Sumali kehabisan tenaga.
Dengan satu tebasan mematikan, Wisakarna menyembelih Prabu Sumali di hadapan para satria Alengka. Prahasta, putra Sumali, hanya bisa menatap tanpa daya.
Berita kematian Sumali cepat sampai ke telinga Rahwana. Wajahnya memerah, dadanya bergemuruh.
Rahwana berteriak:
“Iblis laknat! Bagaimana bisa kau membunuh eyangku, Wisakarna?!”
Wisakarna tak gentar.
Ia membalas:
“Bukankah kau sendiri yang memintaku melawan Alengka?”
Rahwana mendesis.
“Aku memintamu meminta kemerdekaan lewat musyawarah, bukan mengobarkan perang!"
Wisakarna merasa terhina.
Wisakarna menantang:
“Jika kau berani menghinaku, aku bunuh kau dan kau akan menyusul eyangmu!”
Namun Rahwana lebih cepat. Dengan amarah yang memuncak, ia meraih Pedang Mentawa, menebas leher Wisakarna, dan memenggalnya di tempat.
Kematian dua raja sekaligus mengguncang Alengka. Istana berkabung, tetapi juga dipenuhi perdebatan.
Siapa yang berhak memimpin Alengka? Apakah Rahwana, cucu Sumali yang membalas dendam? Atau Prahasta, putra Sumali yang sah?. (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Sumali Gugur alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan