Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Akhir Riwayat Tokoh Wayang Durna: Gugur karena Karma dan Amarah Seperguruan

Ki Damar • Senin, 6 Oktober 2025 | 02:05 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Durna ahli memanah
Ilustrasi tokoh wayang Durna ahli memanah

Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*

Durna, yang pada masa mudanya dikenal dengan nama Bambang Kumbayana, adalah putra Resi Baratmadya dari Hargajembangan dengan Dewi Kumbini.

Ia memiliki dua saudara kandung, Arya Kumbayaka dan Dewi Kumbayani.

Sejak muda, Kumbayana dikenal sebagai brahmana yang pandai, sakti mandraguna, dan memiliki kemampuan luar biasa dalam siasat perang.

Karena kesaktian serta kemahirannya dalam olah keprajuritan, Durna dipercaya menjadi guru besar bagi para putra Astina, yakni Pandawa dan Kurawa.

Ia memiliki dua pusaka sakti, keris Cundamanik dan panah Sangkali, yang kelak diwariskan kepada Arjuna, murid kesayangannya.

Durna merupakan murid Rama Bargawa, sang brahmana sakti berkapak Parasu.

Ia satu perguruan dengan Sucitra (kelak bergelar Prabu Drupada) dan merupakan adik seperguruan dari Resi Bisma (Dewabrata).

Resi Bisma sangat senang ketika Durna dipercaya mendidik cucu-cucunya, sebab ia meyakini bahwa Durna akan menjadi guru yang bijak.

Namun, takdir berkata lain. Durna memanfaatkan kedekatannya dengan Pandawa dan Kurawa untuk membalas dendam lama terhadap Drupada, teman seperguruannya dahulu.

Dendam Durna bermula ketika ia pernah direndahkan oleh Drupada, yang saat itu telah menjadi raja Pancala.

Peristiwa itu meninggalkan luka batin yang mendalam. Dalam hatinya, Durna bersumpah untuk menumbangkan sahabat lamanya itu.

Ketika perang Baratayuda pecah, Durna meminta dinobatkan sebagai senopati perang Astina, dengan tujuan utama bukan demi kemenangan Kurawa, melainkan untuk membunuh Drupada.

Pertempuran dua murid Rama Bargawa ini membuat kahyangan berguncang, bahkan para dewa menangis menyaksikan bagaimana dua brahmana suci saling menumpahkan darah.

Rama Bargawa di kahyangan merunduk malu.

Ia menyadari bahwa perang Baratayudha yang menghancurkan banyak generasi ksatria, sejatinya merupakan karma masa lalunya.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Durna #Tokoh #wayang