Lakon wayang Ampak Ampak Glagah Tinunu oleh Ki Damar*
DI ISTANA, ucapan Kalabendana memancing debat.
Wasiat Prabu Arimba melawan klaim darah laki-laki.
Brajadenta menuduh konspirasi.
Sengkuni menepuk dada menguatkan klaim bahwa tahta seharusnya di tangan putra laki-laki. Tuduhan dan ejekan terlontar.
“Sengkuni mambu telek,” sindir salah satu tokoh yang mengendus kecurigaan terhadap patih licil yang selalu mengadu domba itu.
Akhirnya Kalabendana pergi, sedih dan panik.
Konflik belum mereda. Laporan dikirim ke istana. Pringgondani memasuki babak yang menentukan.
Intrik politik, loyalitas keluarga, dan wasiat leluhur kini menjadi bahan bakar perebutan kekuasaan.
Siapakah yang akan duduk di singgasana Pringgondani?
Warisan sah atau klaim yang dibangun lewat muslihat? (*/den)
*Penulis lakon wayang Ampak Ampak Glagah Tinunu alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan