Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Tali Goci

Deni Kurniawan • Jumat, 10 Oktober 2025 | 04:13 WIB
Sakat menimpa air sumur. Tokoh utama dalam cerpen tali goci itu teringat kenangan masa kecil anaknya.
Sakat menimpa air sumur. Tokoh utama dalam cerpen tali goci itu teringat kenangan masa kecil anaknya.

Cerpen oleh Deni Kurniawan*

SIANG menjelang. Seekor burung pipit hinggap di mulut sumur, lalu terbang lagi.

Sakat masih berdiri di situ, menatap tali goci yang menjuntai.

Dia sadar bahwa sebagian tali memang harus diperbarui.

Tapi, tidak semuanya wajib dibuang.
Karena tali itu seperti hidup Sakat, hanya perlu disambung bukan diganti.

“Anakmu tidak pernah balik desa, Kat?” tanya Kaslan, seorang tetatangga.

“Kerja di kota, katanya sibuk, tidak sempat pulang,” jawab Sakat.

Sakat menunduk. Dia menatap tali goci di digenggamannya.

Seutas tali yang dulu dipakai anaknya ketika masih kecil untuk belajar menimba air.

Sakat tiba-tiba tersenyum. Dia teringat gelak tawa dan wajah penuh bangga saat putranya berhasil menimba air untuk kali pertama.

Namun, semua cuma kenangan di kepala pria sepuh itu. Tali pun kini seperti hatinya yang kering.

Seutas tali tua yang tengah digenggam kencang oleh tangan yang kasar. Tangan dengan urat-urat yang menonjol.

''Sudah saatnya diganti, Kat. Tali sudah tidak kuat,” ujar Sarban yang sedang melintas.

Sakat hanya tersenyum. Baginya, tali goci itu bukan sekadar alat penarik ember.

Peranti itu adalah saksi perjalanan hidupnya serta kehidupan puluhan tahun di kampungnya. Sebuah alat yang sarat kenangan.

Saat desa mereka belum punya pompa air atau saluran PDAM, tali itu satu-satunya penghubung antara manusia dan air sebagai sumber kehidupan.

Semua warga menimba dari sumur yang sama. Mulai petani, anak sekolah, hingga ibu-ibu untuk mencuci.

Di sana, orang-orang berbagi cerita, bertukar kisah, bergosip, atau sekadar saling sapa.

Kini, sumur itu lebih sering sepi. Rumah-rumah di kampung sudah banyak yang punya keran masing-masing.

''Aku tidak minta uangmu, Nak. Minta agar rumah dipasangi air. Pulanglah!'' gumam Sakat yang rindu karena tiga tahun sudah anaknya tak pulang.

Apa yang Terjadi dan Dialami Anak Sakat?

Nan jauh di sana, anak Sakat tertimpa nahas bertubi-tubi. Apa yang sedang terjadi dan dialami membuatnya gelap pikiran.

Istri kabur dengan mandor tempatnya bekerja. Harta benda turut dibawa lari.

Termasuk uang jatah makan yang diam-diam dikumpulkan untuk dikirimkan ke ayahnya.

Sejumlah tabungan yang kiranya lebih dari cukup untuk pasang air.

Duit yang bertahun-tahun sengaja dikumpulkan sebagai bekal pulang kampung.

Kini, sepotong tali tengah melingkar di hadapannya.

Pria paruh baya itu berdiri di atas kursi. Matanya berkaca-kaca.

''Maaf, Bapak, aku pulang dulu,'' ujarnya. (*)

*Penulis redaktur Jawa Pos Radar Madiun

Editor : Deni Kurniawan
#rindu #Kehidupan #Tali Goci #cerpen #jawa pos #kisah #Deni Kurniawan #anak #Sakat #radar madiun #bapak #kenangan #Cerita