Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“Kanjeng Rama Panembahan, sudah aku pikirkan dengan matang,” ujar Dewi Madrim dengan suara tenang.
“Aku akan bersama Sinuwun Pandu masuk ke pancaka, mati obong, bela pati bagi suami yang kucintai. Aku tak akan membiarkan beliau menanggung dosa dan kesalahan sendirian. Biarlah aku ikut menebusnya. Dosa besar ini bermula dari diriku. Ketika aku nyidam lembu andini milik Pukulun Manikmaya, Kakang Prabu Pandu mendapat balasan buruk. Karena itu, aku harus ikut menanggung rasa sakitnya.”
“Sungguh, kau istri yang baik, Madrim,” kata Begawan Wiyasa dengan penuh haru.
“Dan kau, Kunti, berilah restu pada adikmu. Apa yang ditanam di dunia akan dituai di akhirat. Jika kau tak mengizinkan, justru batin adikmu akan tersiksa. Aku percaya kau kuat membesarkan anak-anak Pandu yang berjumlah lima.”
Dewi Kunti menatap Dewi Madrim dengan mata basah. Ia lalu memeluknya erat.
“Apapun yang terjadi, Yayi Madrim, kau adalah istri terbaik bagi Sinuwun Pandu. Kau wanita yang setia, yang menemani suami dalam suka dan duka. Bahkan ketika beliau wafat, kau pun tak membiarkannya sendiri. Aku akan selalu mendoakanmu, dan aku berjanji akan menjaga anak-anak kita tanpa membeda-bedakan.”
Keduanya berpelukan lama, air mata bercucuran di antara doa perpisahan.
Dewi Madrim perlahan naik ke pancaka, menatap untuk terakhir kalinya tubuh Prabu Pandu yang terbujur.
Ia tersenyum, lalu menoleh ke arah kedua anak kembarnya, Pinten dan Tangsen, nama kecil Nakula dan Sadewa. Tatapan cinta terakhir itu mengandung seluruh kasih seorang ibu.
Air matanya jatuh bersamaan dengan langkahnya memasuki api. Seketika nyala pancaka membumbung tinggi.
Dewi Kunti menutup mata si kembar dengan kedua tangannya, memeluk mereka erat sambil berbisik lirih, “Kalian berdua, jadilah satria luhur, berbakti kepada orang tua, dan hiduplah dengan kebijaksanaan.”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani