Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Di sela percakapan itu Sengkuni menegaskan niatnya. “Betul, keponakanku. Karena itu aku akan meluruskan apa yang selama ini salah.”
Kurupati ragu. “Paman, bukankah hal seperti ini tidak benar? Jika seorang raja mangkat tanpa melantik putra mahkota, otomatis keturunannya yang akan naik takhta. Bukan pihak lain. Ini bakal memicu perselisihan. Putra mahkota adalah Puntadewa; dialah yang seharusnya menjadi raja.”
Sengkuni menghela napas.
Baca Juga: Asal-Usul Gudeg Yu Djum: Dari Dapur Sederhana Jadi Ikon Nasional
“Keponakanku, Puntadewa masih muda. Mereka belum layak menjadi raja sekarang. Aku melihat akan ada kekosongan kepemimpinan tahun-tahun ke depan sampai Pandawa dewasa. Kita harus manfaatkan kesempatan itu untuk merebut tahta. Aku percaya Eyang Bisma akan menunjuk ayahmu sebagai raja sementara, menggantikan Paman Pandu.”
Kurupati termenung, bergulat antara rasa takut dan godaan ambisi.
“Maksud Paman, selagi menunggu Pandawa dilantik, Paman akan menyiapkan cara agar Kurawa memegang kekuasaan penuh Astina, lalu aku yang menjadi raja? Benarkah begitu?”
“Benar sekali, keponakanku. Bukankah menjadi raja adalah hasrat setiap insan?” jawab Sengkuni penuh keyakinan.
“Apa itu mungkin, Paman?” Kurupati masih ragu.
“Tak ada yang tak mungkin, keponakanku. Ingatlah, aku, Pamanmu, orang dari luar negeri, bisa menjadi orang kedua setelah raja. Kekuasaanku besar dalam menentukan arah pemerintahan. Aku akan membuat kalian sejahtera dan menyingkirkan anak-anak Pandu. Akhirnya tahta akan berada di tangan kita semua, dan engkau menjadi raja Astina.” Sengkuni tertawa pelan, matanya menyiratkan rencana yang mengerucut.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani