Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Wrehatnala Krida 3, Mengasah Jiwa Senopati

Ki Damar • Selasa, 11 November 2025 | 01:35 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Kedi Wrehatnala
Ilustrasi tokoh wayang Kedi Wrehatnala

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

“Pengecut? Haha. Kau gila atau bagaimana? Pikir secara nalar, siapa yang tidak takut melihat ribuan prajurit dan panah seperti hujan? Kalau kau tak lari, kau akan mati. Apa nyawamu tak berarti? Jadi senopati boleh, tapi bodoh jangan. Aku masih sangat muda; tak pantas aku mati sia-sia,” ujar Raden Utara ketus.

“’Sia-sia’? ‘Bodoh’? ‘Sayang nyawa’? Apakah itu sifat seorang senopati?” Wrehatnala mulai kesal.

Utara melotot lalu mendorong. Ia terjatuh. “Beraninya kau! Siapa kau sampai berani?” bentaknya.

“Maaf, Raden,” kata Wrehatnala tenang.

“Aku hormat pada satria yang memikul tanggung jawab. Namun perilaku Paduka sulit dibenarkan. Seorang putra mahkota seharusnya menjaga nama baik keluarga dan rajanya. Bukan lari dari kewajiban seperti orang tak punya nurani.”

Kata-kata itu menampar rasa malu Raden Utara. Ia sadar, ucapan Wrehatnala benar. Selama ini ia dimulyakan, tak pernah bekerja keras, sehingga jiwa keberanian belum tumbuh.

“Maafkan aku, Wrehatnala. Kupikir aku takkan tahan. Dari kecil aku dimanjakan. Aku takut,” bisiknya.

Wrehatnala tersenyum samar, lalu memberi usul yang mengejutkan.

“Bagaimana kalau kita tukar posisi? Aku jadi senopati, dan Paduka menjadi kusir.”

“Jangan bercanda! Kau hendak merendahkanku? Aku anak raja, disuruh jadi kusir?” geram Utara.

“Kusir yang kumaksud bukan kusir andong yang mencari nafkah. Kusir senopati adalah posisi kehormatan; ia menunaikan kewajiban seorang satria luhur. Bila Paduka hendak belajar menjadi pemimpin, mulailah dari hal yang paling dasar,” jawab Wrehatnala mantap.

Suasana berubah. Raden Utara yang dipenuhi rasa takut kini dihadapkan pada pilihan. Apakah tetap lari dari tanggung jawab atau belajar berani dari posisi yang paling rendah, bersama kusir yang setia itu.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Lakon #wayang