Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“Hem, baiklah Wrehatnala, aku akan menurutimu. Tapi apakah kau berani menghadapi pasukan sebanyak itu?” tanya Raden Utara ragu.
“Raden, aku hanyalah abdi dalem. Jika aku mati di medan perang, itu kehormatan. Tak ada yang sia-sia menjadi mayat setelah menunaikan kewajiban sebagai satria,” jawab Wrehatnala mantap.
“Oh, maaf perkataanku tadi. Sungguh aku malu,” ucap Utara menyesal.
“Tak apa, Raden. Kini aku mohon, arahkan kereta ke dalam hutan sebentar,” pinta Wrehatnala.
“Haha, kau juga takut kan? Kau ingin bersembunyi?” ejek Utara.
“Bukan begitu, Raden. Aku akan mengambil senjataku,” jawab Wrehatnala tegas.
Raden Utara segera membelokkan kereta menuju hutan Kamyaka. Dari atas kereta, Wrehatnala menunjuk ke arah pohon randu. “Lihat, Raden. Di atas pohon itu ada sebuah pusaka. Tolong ambilkan!”
“Memanjat pohon? Kau serius? Aku anak raja, kau suruh memanjat? Logikamu bagaimana, To?” protes Utara.
“Pilih jadi senopati atau pilih memanjat pohon?” tantang Wrehatnala.
“Aku pilih memanjat saja,” jawab Utara ragu namun menurut.
Setelah memanjat dan membuka pusaka itu, Raden Utara terkejut. Pusaka tersebut ternyata adalah senjata milik Arjuna.
“Ini senjata cucuku Arjuna. Kenapa kau bawa? Kau mencuri?” seru seseorang dari kejauhan.
“Tidak, Raden. Coba lihat dengan teliti,” kata Wrehatnala.
Dengan cermat Utara memandang. Ia sadar bahwa Wrehatnala membawa semua senjata milik Arjuna. Perlahan kesadaran itu muncul dan Utara merangkul erat Wrehatnala. “Oh, kau Arjuna. Oh, cucuku!” teriaknya haru.
“Jangan keras-keras, Eyang,” bisik Wrehatnala. “Sebenarnya kami Pandawa sedang menyamar sebagai Kurawa. Bila kami ketahuan, hukuman akan terulang.”
“Baiklah, aku percaya. Jika kau jadi senopati, mereka akan kalah. Haha, ayo! Aku akan membawamu ke medan perang. Janaka, cucuku sangat hebat. Kurawa, saksikanlah kekalahan kalian!” seru Raden Utara penuh semangat.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani