Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Pandawa dikabarkan tewas karena terbakar di Bale Sigala-gala. Api yang begitu besar dipercaya banyak orang menelan putra-putra Pandu.
Destarata, selaku paman mereka, sangat berduka.
Di hari yang seharusnya menjadi penobatan mereka sebagai raja, kabar bahagia berubah menjadi duka mendalam.
“Bagaimana bisa ini terjadi, Gandari? Dosa apa yang telah aku lakukan? Pandawa tewas di hutan Wanamarta. Widura, kemarilah!” perintah Destarata kepada adik bungsunya.
“Kau selidiki penyebab kematian Pandawa. Aku sungguh akan menghukum siapa pun yang bertanggung jawab atas ini. Aku yakin ini bukan kecelakaan, melainkan rencana seseorang.”
Widura sependapat dengan kakaknya.
Ia pun menyelidiki kejadian ini secara diam-diam, sebab di Astina banyak mata yang mengawasi setiap geraknya.
Sementara itu, Sengkuni dan Kurupati menguping pembicaraan Destarata dan Widura. Keduanya ketakutan, khawatir rahasia mereka terbongkar.
“Bagaimana ini, Paman? Ayah sedang menyelidiki kasus ini, apalagi Paman Widura terkenal cerdas dan teliti. Aku takut kita ketahuan,” ucap Kurupati, cemas.
“Tenang saja, keponakanku. Kita tidak boleh tinggal diam. Setelah melakukan sesuatu, kita harus mencuci tangan, bukan begitu?” ujar Sengkuni licik.
“Maksud Paman apa?” tanya Kurupati heran.
“Yang tahu kejadian ini hanya Purucona. Kita harus menangkap dan membunuhnya.”
“Masalahnya, sejak peristiwa Bale Sigala-gala, kita belum menemukan dia, Paman.”
“Benar, tapi kita akan segera menemukannya. Jangan sampai Widura menemukannya lebih dulu,” jawab Sengkuni sambil menyeringai.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani