Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Setelah upacara pernikahan, Pandawa bermalam beberapa hari di Kahyangan Saptapratala, kediaman Batara Antaboga.
Saat merasa cukup, mereka pun melanjutkan perjalanan, kembali mengembara menapaki takdir hidupnya.
“Baiklah, anak-anakku,” ujar Batara Antaboga lembut.
“Janganlah kalian merasa kehilangan dunia dan kemewahan. Mungkin kalian membenci Kurawa yang akan menjadi raja, tetapi ingatlah, gemerlap dunia hanya sesaat. Kemewahan justru akan menjadi beban ketika kalian harus bertanggung jawab di hadapan Tuhan.”
Mendengar nasihat ibunya, para Pandawa merasa tenang dan ikhlas menjalani kehidupan yang ditentukan.
Mereka pun berjalan dari desa ke desa, mengembara tanpa henti.
Namun dari kejauhan, Purocana diam-diam mengikuti langkah mereka.
“Rupanya mereka masih hidup,” gumamnya panik.
“Celaka aku! Hanya ada dua pilihan, menyerah dan memohon ampun pada Pandawa, atau membunuh mereka semua.”
Kegelisahan melanda. Jika Pandawa hidup, Sengkuni pasti akan membunuhnya.
Tapi jika ia menyerahkan diri dan meminta maaf, ia bisa saja ditangkap dan dibawa ke Astina untuk diadili. Ia menimbang-nimbang nasibnya dengan wajah pucat.
“Baiklah,” desisnya pelan, “aku akan menyerahkan diri pada Pandawa dan mengaku. Setidaknya, aku masih bisa hidup.”
Namun saat hendak mendekati mereka, langkahnya terhenti. Tiba-tiba seseorang mencekal bahunya.
“Mau ke mana kau?” suara tegas itu membuatnya gemetar. Ternyata Raden Widura berdiri di hadapannya.
“Sungguh aku sangat lelah mencarimu ke mana-mana,” kata Widura menatap tajam. “Sekarang, maukah kau bercerita padaku?”
Dalam hati Purocana bergetar ketakutan. Dua pilihannya kini sama saja, keduanya berujung pada kematian. “Sungguh, aku pasti akan mati di tangan Raden Widura,” batinnya putus asa.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani