Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“Apa? Bagaimana bisa? Ayahku adalah Rama Adirata, bukan dirimu! Siapa sebenarnya kau?” tanya Suryatmaja, kebingungan.
“Aku adalah Batara Surya,” jawab sang dewa tenang. “Ceritanya panjang. Singkatnya, dulu aku menitipkan anugerah kepada seorang wanita Mandura yang sangat taat beribadah. Saat itu ia memanggilku, dan aku menitipkan berkah itu kepadanya. Dari anugerah itulah kau lahir. Kau adalah anakku. Adirata dan Dewi Nadha adalah orang tua yang mengasuhmu, bukan yang melahirkanmu.”
“Kalau begitu… siapa wanita yang menjadi ibu kandungku?”
“Suatu hari kau akan mengetahui semuanya, tetapi bukan sekarang. Setelah ini, kau tetap harus kembali kepada Adirata dan Nadha. Jangan sekali-kali melukai hati mereka. Cinta mereka padamu sungguh tulus.”
Belum sempat Suryatmaja menjawab, suara berat memotong pembicaraan.
“Cukup! Pertemuan kalian memang mengharukan… tapi kenapa kau turun tangan, Batara Surya?”
“Aku mohon, hentikan sandiwara ini,” ujar Batara Surya.
“Terimalah dia sebagai muridmu. Bukankah kau tahu betapa keras tekadnya? Ia benar-benar ingin menuntut ilmu.”
“Duh, Kanjeng Rama… dia ini siapa?” tanya Basukarna bingung.
Dialah orang yang kau cari, anakku. Dia adalah Rama Bargawa,” jelas Batara Surya.
“Itu sebabnya ayah turun. Dia sangat berbahaya. Bargawa, bukankah kau sudah berjanji untuk tidak menyakiti siapa pun lagi, dan menebus kesalahanmu di masa lalu?”
Rama Bargawa menghela napas panjang.
“Benar. Namun apa salahnya seorang guru menguji calon muridnya? Murid zaman sekarang berbeda dengan dahulu. Dulu murid-muridku bermental baja dan tidak pernah kurang ajar. Jika aku tidak memilih dan menguji dia, aku takut suatu hari ia tumbuh menjadi orang yang sombong dan tak tahu tata krama.”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani