Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Supala Gugat 3: Mengapa Harus Membalas Dendam Paman?

Ki Damar • Selasa, 18 November 2025 | 03:05 WIB
Ilustrasi lakon wayang Supala Gugat.
Ilustrasi lakon wayang Supala Gugat.

Lakon wayang Supala Gugat oleh Ki Damar*

SETELAH pemakaman Prabu Jarasanda dilakukan, Jayatsena kembali ke istana untuk melanjutkan tugas sebagai pewaris Magadha.

Namun, Prabu Supala dari Cedi segera datang menghadap, membawa bara dendam yang siap disulut.

“Jayatsena, kau harus membalas kematian ayahmu,” tegas Supala.

Jayatsena menatap pamannya itu dengan bingung. “Mengapa aku harus membalas dendam, Paman?”.

Supala merasa heran. “Sebagai anak yang berbakti, kau seharusnya membunuh Bima. Dengan begitu kau mendapat gelar anak anung anindita—anak yang paling berbakti.”

Jayatsena menggeleng pelan. “Apakah berbakti harus dengan membunuh, Paman? Haruskah dendam dibayar nyawa?”

Ia melanjutkan dengan suara tegas namun lembut.

“Paman tahu bahwa dendam tak pernah ada akhirnya. Ia menggerogoti hati, membuat manusia dipenuhi dengki dan kebencian. Ketamakan dan kemurkaan manusia tak memiliki batas. Aku memilih menerima kejadian ini sebagai pelajaran—bagi diriku, juga bagi Magadha.”

Supala semakin gusar.

“Bagaimana mungkin kematian seorang raja hanya dianggap pelajaran? Apakah kau tidak menyayangi orang tuamu? Bahkan nyawa ayahmu kau sebut sekadar pengalaman!”

Jayatsena menatap pamannya dengan penuh ketegasan.

“Ini bukan soal nyawa, Paman. Ini tentang kesalahan ayahku. Seorang raja yang zalim akan membawa malapetaka bagi kerajaan. Aku tidak ingin mengulang kesalahan itu.”

Mendengar itu, Supala mendengus marah.

“Jika kau, sebagai putra mahkota, tidak mau menuruti niat baikku, maka aku sendiri yang akan membalas dendam pada Bima! Aku akan menghadap ke Amarta dan meminta Raja Yudhistira mengadili Bima!”.

Tanpa pamit, Prabu Supala meninggalkan Magadha. Dengan kesaktiannya, ia melesat cepat menuju istana Amarta.

Sesampainya di sana, ia berdiri tegak menatap megahnya negeri Pandawa.

“Ah, ini Amarta,” gumamnya sinis. “Indah memang. Tapi sebentar lagi akan kubuat kisruh. Akan kubuat mereka pecah belah dalam keluarga… haha!”. (*)

*Penulis lakon wayang Supala Gugat alumnus ISI Surakarta

Editor : Deni Kurniawan
#Lakon wayang #Jayatsena #Supala #Supala Gugat