Lakon wayang Supala Gugat oleh Ki Damar*
KATA-KATA Supala yang memojokkan Kresna membuat suasana istana Amarta memanas.
Tuduhannya jelas menyinggung kematian Prabu Jarasanda—raja Magada yang terkenal kejam dan gemar mempersembahkan korban manusia kepada Batara Kala.
Kresna menatap Supala, suaranya tetap tenang namun penuh ketegasan.
“Apakah barusan kau membela Jarasanda?” ujar Kresna.
“Jika keburukan kau anggap kebenaran, pantaskah kau disebut manusia? Jarasanda menindas rakyatnya, menyengsarakan yang lemah, dan hendak membunuh banyak raja demi kepentingan gelap. Darahnya adalah hala—kehancuran bagi dunia.”
Kresna melanjutkan, tegas tanpa keraguan:
“Aku tidak akan tinggal diam ketika kezaliman merajalela. Menyingkirkan keburukan adalah tugasku sebagai titisan Wisnu. Kau suka atau tidak, aku tak peduli.”
Prabu Matsapati, sang tetua, segera menenangkan.
“Tenanglah, putu Kresna. Dia hanya memancing emosimu. Jangan masuk dalam jebakannya.”
Namun Supala justru tertawa keras, memprovokasi seluruh aula istana.
“Haha! Aku ingin lihat seperti apa Kresna marah. Katanya titisan Wisnu, dewa keadilan. Tapi apa pantas anak orang yang suka berzina mendapatkan gelar itu? Hahaha!”
Para tamu—para raja dan pandita—terperanjat.
Kata-kata itu bukan hanya penghinaan pada Kresna, namun juga pelecehan terhadap martabat Mandura.
Kresna tetap berdiri tegak.
“Supala, mengapa aku harus marah? Amarah hanya akan merusak citraku di hadapan para raja. Aku adalah titisan Wisnu, dewa keadilan dan kebahagiaan.”
Supala kembali mengejek.
“Keadilan? Kebahagiaan? Jangan bercanda! Jabatanmu tidak sah. Setiap hari kau akan ketakutan!”
Ucapan itu menjadi batas terakhir.
Tanpa aba-aba, tanpa gerak tubuh yang terlihat, Cakra Sudarsana—senjata titisan Wisnu—melayang berkilat di udara.
Dalam sekejap, kepala Supala terpenggal. Senyap menyelimuti istana Amarta.
Kresna berkata lirih namun penuh wibawa:
“Daripada hidupmu terlalu lama membawa keburukan, lebih baik berakhir sampai di sini. Jatah kesabaranku padamu telah habis. Kau kini menerima balasanmu. Di akhirat, kau akan tahu bahwa aku tidak main-main dalam menegakkan keadilan.”
Para raja terdiam. Para pandita menunduk. Dan sejarah mencatat hari itu sebagai akhir perjalanan Supala—yang menantang keadilan, lalu tumbang oleh tangan sang titisan Wisnu. (*/den)
*Penulis lakon wayang alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan