Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Subali Lena 5/Habis: Keluarnya Ajian Pancasona

Ki Damar • Kamis, 20 November 2025 | 05:00 WIB
Ilustrasi lakon wayang Subali Lena.
Ilustrasi lakon wayang Subali Lena.

Lakon wayang Subali Lena oleh Ki Damar*

TARUNG sengit antara Raden Rama Wijaya dan Resi Subali mencapai puncaknya. Dua tokoh sakti itu saling serang dengan kecepatan dan tenaga yang membuat bumi Guakiskenda bergetar.

Raden Rama tetap berdiri tegak, tidak mundur sejengkal pun, sementara Subali mulai terengah—keringat bercampur darah membasahi tubuhnya.

“Huh… sungguh sakti kau, Rama!” Subali menggeram sambil menahan rasa sakit. “Keluarkan seluruh kekuatanmu!”

Rama menarik napas panjang, lalu mengangkat busur pusakanya. “Jika itu yang kau inginkan, Subali… bersiaplah.”

Dalam sekejap, panah Rama melesat menembus udara, menghantam tubuh Subali hingga ia terhempas keras dan terkapar di tanah. Namun anehnya, tubuh Subali yang tampak tak bernyawa itu kembali bergerak. Ototnya menegang, napasnya kembali terdengar—pelan tapi nyata.

Rama tertegun, namun sebelum ia bertanya, Sugriwa berlari mendekat dan berlutut di hadapannya.

“Raden… hamba lupa mengatakan sesuatu,” ujar Sugriwa dengan suara gemetar. “Kakang Subali tidak bisa mati. Bukan abadi, tapi… ia memiliki Ajian Pancasonya. Selama tubuhnya menyentuh tanah, meski mati tujuh kali dalam sehari, ia akan bangkit kembali.”

Rama mengangguk perlahan. “Jadi… rumor itu benar. Ajian Pancasonya bukan sekadar dongeng.”

Ia mendekati tubuh Subali yang kembali bergerak lemah.

“Menarik… sungguh menarik. Ilmu ini bisa mengguncang keseimbangan dunia bila jatuh ke tangan yang salah.”

Sugriwa menahan tangan Rama dengan air mata berlinang.

“Raden… apakah tidak ada jalan lain? Hamba tidak ingin kehilangan kakang Subali. Meski ia salah paham, ia tetap kakakku.”

Rama memegang bahu Sugriwa dengan lembut.

“Sugriwa… kau memiliki welas asih yang besar. Tapi kewengisan Subali telah membuat kerusakan. Bila ajian Pancasonya dibiarkan, dunia tidak akan pernah aman.”

Ia menatap jauh ke arah hutan.
“Demi keseimbangan, ajian ini… dan pemiliknya… harus dihentikan.”

Rama kembali menarik busurnya. Kali ini panah dilepaskan dengan penuh ketetapan hati. Panah suci itu menancap pada tubuh Subali dan menghentikan seluruh pergerakannya.

Dalam satu hentakan kuat, Rama memerintahkan bala kera menggantung tubuh Subali di sebuah pohon tinggi agar tidak menyentuh tanah lagi.

Sejak hari itu, tubuh Subali terikat pada dahan, dijaga ketat oleh para wanara agar tidak jatuh ke bumi—sebuah pengorbanan demi menjaga keseimbangan jagat.

Di bawah pohon itu, Sugriwa menunduk dalam kesedihan.
“Maafkan aku, Kakang… semoga rohmu menemukan damai.”

Dan angin hutan membawa suara lirih, seakan gema terakhir Subali: “Kesalahan adalah bayangan yang mengikuti nafsu. Jadikanlah kebenaran sebagai suluh hidupmu, Sugriwa…” (*/den)

*Penulis lakon wayang Subali Lena alumnus ISI Surakarta

Editor : Deni Kurniawan
#Sugriwa #Lakon wayang #Subali #Rama #wayang #Pancasona