Lakon wayang Babat Alas Mrentani oleh Ki Damar*
PRABU Matsapati—yang juga sering dipanggil Prabu Durgandana—pergi meninggalkan Bima tanpa jawaban tegas dari cucunya itu.
Bima hanya bisa pasrah menerima pesan sang kakek, lalu segera pulang untuk menyampaikannya kepada ibunya, Dewi Kunti.
Ketika Bima tiba, Dewi Kunti menyambutnya dengan lembut.
“Kau sudah datang, Bima. Apa yang disampaikan eyangmu, anakku?”
Bima menunduk hormat.
“Eyang Durgandana memberikan kita tanah berupa hutan Mrentani. Ia meminta kami, para Pandawa, untuk membabat hutan itu dan menjadikannya kerajaan tempat kami bermukim.”
Dewi Kunti memandang Bima penuh kasih.
“Bima, ibu tahu kau pasti ingin menolak pemberian itu. Tetapi yang ibu khawatirkan bukan tentang menerima atau menolak. Yang ibu takutkan adalah ketika kalian mulai membabat hutan itu, apakah kalian bisa menjaga diri agar tidak jatuh cinta pada dunia dan kekayaan. Hutan adalah sumber kehidupan bagi banyak makhluk. Bila manusia terlalu haus akan harta, biasanya ia akan terus menggerus alam hingga menimbulkan bencana.”
Bima tampak bingung.
“Memang bencana apa yang akan terjadi bila hutan dibabat? Lagipula, eyangku memberikan izin. Secara hukum aku diperbolehkan menebangnya.”
Dewi Kunti tersenyum tipis, lalu menjelaskan dengan tenang: “Bima, jika hutan ditebang berlebihan, akar-akar pohon tidak lagi menyerap air. Maka datanglah banjir bandang.
Tanah yang kehilangan penopang pun akan mudah longsor. Bila kau membangun negara tetapi rakyatmu justru celaka, lalu apa gunanya tahta itu?”
Bima terdiam sejenak sebelum bertanya polos, seperti sifatnya.
“Lalu bagaimana aku bisa membangun negara tanpa membabat hutan, Ibu?”
Dewi Kunti mendekat dan menepuk lengan putranya itu.
“Bima, meskipun kau mendapat izin, kau harus cerdas dalam memilih pohon mana yang pantas ditebang. Jangan egois dan sembarangan. Hitunglah berapa yang harus ditebang, dan pikirkan pula berapa banyak yang harus kau tanam kembali.
Kekayaan alam bukan hanya milik kita sekarang—itu milik anak cucu kita nanti.”
Bima mengangguk perlahan. Kata-kata ibunya meresap ke dalam hatinya, mengingatkannya bahwa membangun kerajaan tidak hanya soal kekuasaan, tetapi juga menjaga keseimbangan alam. (*/den)
*Penulis lakon wayang Babat Alas Mrentani alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan