Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Di pendapa Amarta, Bima baru saja kembali dari Samudra Minangkalbu setelah bertemu Batara Dewa Ruci.
Dari pertemuan itu, ia memperoleh Ilmu Kasampurnan, ilmu tentang sangkan paraning dumadi atau asal-usul dan tujuan akhir manusia.
Karena keluhuran ajaran tersebut, kakaknya, Raja Amarta Prabu Puntadewa, memerintahkan Bima agar membagikan ilmu itu kepada para pejabat istana, supaya manfaatnya dapat dirasakan bukan hanya oleh diri mereka sendiri, tetapi juga oleh rakyat.
Bima yang tak ingin membantah titah kakaknya segera menyanggupi permintaan itu.
Para pejabat dan tamu yang hadir pun dipenuhi rasa penasaran. Sebagian mengira ilmu tersebut akan membuat seseorang menjadi sakti.
Ada pula yang berharap dapat memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi dan kesejahteraan diri semata. Bahkan, tak sedikit yang menganggap ilmu itu tidak penting jika tidak mendatangkan keuntungan duniawi.
Mengetahui arah pikiran para pejabat Amarta yang masih kerap dikuasai ego, Bima segera memberikan wejangan.
“Ilmu ini bukan tentang kekayaan, bukan pula tentang jabatan,” ujar Bima tegas.
“Ilmu Kasampurnan adalah tentang sifat manusia dalam mencari kebenaran, tentang siapa dirinya, untuk apa ia hidup, dan kepada siapa kelak ia kembali. Ilmu ini membentuk watak agar manusia mampu bersikap adil, bijaksana, serta tahu membedakan benar dan salah dalam setiap keputusan.”
Semua yang hadir tertunduk. Mereka merasa tersentuh, bahkan tersindir oleh kata-kata Bima. Ilmu Kasampurnan pun diwejangkan di pendapa Amarta.
Namun, gema ajaran itu mengguncang Kahyangan Suralaya. Kegemparan pun terjadi, hingga Batara Guru turun ke Amarta dan bertanya dengan nada heran,
“Bima, mengapa kau membagikan ilmu itu kepada khalayak ramai, padahal Ilmu Kasampurnan sejatinya untuk laku pribadimu sendiri? Kahyangan kini menjadi gempar dan panas karenanya.”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani