Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Srikandi Krida 4, Menembus Kawah Candradimuka

Ki Damar • Kamis, 18 Desember 2025 | 03:30 WIB
Ilustrasi Srikandi, tokoh wayang terkenal (AI GENERATED/RADAR MADIUN)
Ilustrasi Srikandi, tokoh wayang terkenal (AI GENERATED/RADAR MADIUN)

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

“Kyai Semar, para dewa semuanya kabur dan meninggalkan kita. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan Pandawa?” tanya Srikandi cemas.

“Eh, Ndara Putri, engkau tidak usah khawatir dan bingung,” jawab Semar dari dalam diri Srikandi.

“Kita lurus saja ke depan, langsung menuju Kawah Candradimuka.”

Srikandi terkejut mendengar nama tempat itu. “Bukankah Kawah Candradimuka adalah tempat paling ditakuti, baik oleh manusia maupun para dewa?”

“Benar, Ndara,” sahut Semar tenang.

“Lalu bagaimana dengan Pangeran Arjuna dan Pandawa lainnya?” Srikandi bersedih. “Mungkin mereka sudah lebur menjadi abu.”

“Ndara, jangan bersedih dan berkecil hati,” ujar Semar menenangkan. “Kawah Candradimuka meskipun sebuah tempat, ia juga makhluk yang memiliki rasa. Ketika ia mengetahui adanya ketidakadilan yang diputuskan para dewa, kawah itu tidak akan menjadi panas. Aku yakin.”

Dengan hati bergetar namun tekad yang bulat, Srikandi melanjutkan perjalanan.

Di tempat lain, kahyangan justru diguncang amukan seorang raksasa raksasa besar. “Bagaimana ini, Pukulun? Tinjumaya diserang raksasa yang mengamuk!” teriak Narada panik.

“Ah, mengapa kahyangan selalu dijajah makhluk tak bertanggung jawab?” gerutu yang lain.

Akhirnya Batara Guru turun tangan menemui raksasa itu.
“Apa yang kau inginkan?” tanyanya angkuh.

“Bebaskan Pandawa!” raung sang raksasa. “Aku raksasa, tetapi aku tak suka keputusan dewa yang tidak adil!”

“Aku akan menghancurkanmu!” bentak Batara Guru.

Namun di luar dugaan, Batara Guru justru kewalahan menghadapi amukan raksasa tersebut.
“Ayo, jangan lari, Manikmaya!” ejek sang raksasa.

“Mana kesombonganmu tadi?”

Terdesak, Batara Guru mundur hingga ke Kawah Candradimuka. Di sanalah ia bertemu dengan Srikandi.

“Apa yang kau lakukan di sini, Srikandi?” tanya Batara Guru.

“Aku datang untuk membebaskan Pandawa,” jawab Srikandi tegas, menatap lurus tanpa gentar.

“Oh, sungguh kau pemberontak!” murka Batara Guru. “Rasakan panahku, Cundamanik!”

Busur Batara Guru terangkat, panah sakti melesat—sementara Srikandi berdiri tegak, siap menghadapi takdir demi keadilan.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#srikandi #semar #Lakon #wayang #batara