Lakon Wayang oleh Ki Damar*
DENGAN menggunakan ajian sepi angin, Arjuna sampai di Kasatrian Plangkawati.
Semua nayaka tunduk tak ada yang berani dengan raja yang sedang duduk di singgasana.
‘’Siapa kau? Beraninya duduk di singgasana anakku. Apakah kau sudah bosan merasakan manisnya gula?’’ kata Arjuna.
‘’Haha, aku lihat dari kata-katamu dan kepedulianmu ini, aku rasa kau ini ayahnya? Apakah aku salah?’’ kata Prabu Jayasura, raja yang menduduki singgasana Plangkawati milik Abimanyu.
‘’Tidak salah, aku ayah Abimanyu, Arjuna. SIapa kau?’’ ungkap Arjuna.
‘’Aku raja kleyang kabur kanginan. di mana tempatku berpijak di situlah tempat tinggalku. Namaku prabu jayasura,’’ terang Jayasura.
‘’Oh raja gelandangan, bisa-bisanya raja tak punya tempat bernaung. Apakah kau sedang bermain seperti anak-anak? Jabatan raja tidak bisa dibuat mainan seenaknya. Raja adalah orang yang menentukan kebijakan untuk rakyat, menanggung rasa sakit yang diderita rakyat. Sedangkan dirimu tak punya rakyat, apakah bisa disebut raja?’’ papar Arjuna.
‘’Oh tentu tidak. Aku bukan raja yang disembah banyak rakyat. Bila raja hanya sebagai sarana dihormati dan diagungkan oleh orang lain itu bukan raja. Raja itu sebuah kebesaran jiwa dalam diri yang mampu membuat sekelilingnya merasa nyaman dan sejahtera. Berani dalam bertindak dan bertanggung jawab. Raja bagiku itu dilihat dari mental dan tindakan, bukan dari jabatan,’’ ujar Jayasura.
‘’Namun, kehadiranmu kini tidak membuat nyaman dan senang sekelilingmu, apakah kau tahu?’’ ucap Arjuna.
‘’Arjuna, kau ini sangatlah bodoh. Kenyamanan itu bisa terbentuk karena kebiasaan. Ketika mereka terbiasa dan tahu bahwa aku lebih baik dari anakmu, maka aku pikir mereka akan menyesuaikan diri dan menerima diriku,’’ kata Jayasura.
Arjuna marah. Dia langsung mengglendeng Jayasura. (*/den)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan