Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Penjual Puyer Kenangan, Cerpen Bagian 1

Deni Kurniawan • Jumat, 3 April 2026 | 23:06 WIB
Ilustrasi cerpen Penjual Puyer Kenangan.
Ilustrasi cerpen Penjual Puyer Kenangan.

 Tuan dan Nyonya sekalian, berjuta jalan mendapat hiburan di dunia ini. Ada yang harus merogoh kocek lebih dahulu. Namun, tak sedikit yang bisa diperoleh secara cuma-cuma.

Membaca sebuah cerpen menjadi salah satu jalan untuk mendapat hiburan secara gratis. Banyak cerita menarik yang diusung setiap tokoh utamanya.

Seperti kisah Sarban dalam cerpen berjudul Penjual Puyer Kenangan ini. Ada lima bagian cerita. Tiap bagian akan mengacak-acak pikiran dan imajinasi Tuan dan Nyonya sekalian.

PASAR Wage selalu datang seperti takdir. Lima hari sekali, tak pernah lebih cepat, tak pernah terlambat.

Di sudut pasar hewan yang riuh oleh lenguhan sapi dan tawar-menawar kambing, duduk seorang lelaki sepuh bernama Sarban.

Di hadapannya bukan ternak, bukan pula sayur atau rempah.

Hanya botol-botol kecil berisi bubuk halus berupa-rupa warna.

Orang-orang menyebut barang dagangan Sarban itu, puyer kenangan.

Sebuah obat yang ketika diminum akan memunculkan efek ingatan.

Meski, si peminum belum pernah mengalami kejadiannya. Banyak yang bilang, ingatan yang muncul amatlah nyata.

Hari itu, seorang lelaki berjaket lusuh mendekat. Wajahnya keras, tapi matanya kosong.

“Aku pensiunan polisi,” kata pembeli tanpa basa-basi.

“Aku ingin membeli puyer kesedihan,” ungkapnya dengan penuh keyakinan.

Mendengar hal itu, seketika Sarban mengangkat alisnya.

“Kesedihan tidak pernah laku. Biasanya orang ingin melupakannya,” sahut Sarban.

Lelaki yang hendak membeli puyer masa depan itu tersenyum pahit.

“Semasa aku bertugas, hidupku hanya dunia malam dan tawa. Aku lupa bagaimana rasanya dada ini penuh sesak dengan kesedihan,” ucapnya.

Sarban mengangguk pelan. Beberapa kali dia seperti itu.

Sarban lalu menjumput tiga bubuk dari tiga botol kecil.

Pertama berwarna abu-abu. Yang kedua biru tua. Sementara yang ketiga, serbuk berkelir merah hati.

“Minum sebelum tidur! Kau akan bangun dengan kenangan yang bukan milikmu, tapi akan terasa nyata,” kata Sarban seraya menyodorkan selipat kertas berisi puyer kenangan racikannya.

Lelaki pensiunan polisi itu membayar tanpa menawar.

Sejurus kemudian, Sarban memandangi punggung pembeli pertamanya hari itu menjauh.

‘’Esok akan ada seseorang yang belajar menangis untuk pertama kali. Semoga racikanku kali ini meleset, aku tak mau hal buruk terjadi padanya,’’ gumam Sarban.

Pagi telah datang. Kaslan, si pembeli puyer kesedihan, tengah meringkuk sudut kasur  tempat tidurnya.

Dia tak ingat bahwa semalam telah menenggak puyer kenangan dengan khasiat kesedihan.

Yang ada di kepalanya hanya ingatan tentang Panut, seorang pria yang pernah memberinya uang damai di salah satu razia kendaraan.

Kala itu, uang damai yang diberikan sebesar Rp 300 ribu. Duit tersebut dipakai beli sarapan bersama lima anggota lain yang ikut razia.

Mereka tidak tahu bahwa Rp 300 ribu itu merupakan harta terakhir milik Panut. Yang mana, Panut berencana memakai uang tersebut untuk membeli sepada.

Itu adalah janji seorang ayah kepada anaknya. Janji yang sudah diucap setahun lalu. Janji yang telah melekat kuat-kuat di ingatan sang buah hati.

Kini, Kaslan menangis sejadi-jadinya. Kesedihan menjalari sekujur tubuhnya.

Itu serupa yang dialami Panut ketika pulang dan langsung dikejar anaknya yang nerocos menagih janji.

Tatapan penuh harap dari mata sang anak, berujung luluhan air mata pria yang ingin menepati janji sebagai seorang anak.

Kaslan mencoba bangkit dari tempat tidur. Namun, tulang-tulangnya terasa remuk, tak mampu menopang badan.

Itu persis seperti keadaan hati anak Panut saat sadar bahwa ayahnya kembali mengucap janji. Sebuah janji yang berkali ulang masuk ke telinga.

Deretan kata-kata yang penuh harap dan upaya meneguhkan diri dari seorang pria sebagai ayah yang tak akan ingkar janji.

Sayangnya, seketika itu hati sang anak menjadi mati.

‘’Aku tidak percaya lagi dengan, Ayah. Aku tidak mau punya ayah pembohong,’’ begitulah perkataan terakhir sang anak sebelum meninggalkan Panut dan dunia ini. Sebuah perkataan yang kini menghujam nyata di ingatan Kaslan.

Tuan dan Nyonya sekalian, cerpen Penjual Puyer Kenangan bagian 1 ditulis oleh *Deni Kurniawan, redaktur Jawa Pos Radar Madiun. Percaya tak percaya, sehari setelah Kaslan mendapat kenangan kesedihan itu, muncul headline koran berjudul: Seorang Pensiunan Perwira Gantung Diri. (*/bersambung)

Editor : Deni Kurniawan
#penjual puyer kenangan #cerpen #jawa pos #Deni Kurniawan #radar madiun