Cerpen Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“Lantas, siapa?” tanya Raja Alengka dengan suara gemetar.
“Karena yang berhasil mewedarkan ajian itu kepadaku dan kepada Paduka, Rama Prabu, adalah Begawan Wisrawa, maka aku hanya bersedia dinikahi oleh Begawan Wisrawa, bukan oleh Raja Lokapala.”
Mendengar hal itu, Begawan Wisrawa dan Prabu Sumali terkejut.
“Yayi Prabu, bagaimana ini? Aku datang ke sini mewakili anakku, Danapati. Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk melamarkan anaknya, Yayi.”
“Iya, Kakang Panembahan. Namun, ini adalah janji anakku. Ia tidak mungkin mengingkari sumpah dan kata hatinya sendiri.”
“Rama Prabu, pergilah sejenak. Aku ingin berbicara berdua di tempat yang sepi agar tidak ada yang mengetahui apa yang akan kubicarakan. Ini adalah hal yang penting,” pinta sang putri.
Prabu Sumali pun segera pergi. Sementara itu, Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi mencari tempat sunyi untuk membicarakan sebuah kesepakatan.
“Bagaimana ini, Nini? Aku tidak bisa menerimamu. Aku datang untuk memintamu menjadi menantuku dan menikah dengan anakku, Danapati.”
“Duh, Panembahan, jangan sakiti hatiku. Aku telah berjanji pada diriku sendiri: siapa pun yang menunjukkan ajian Sastra Jendra, dialah yang akan menjadi suamiku. Dan yang berhasil adalah Paduka. Aku tidak akan mengkhianati hatiku. Lagi pula, setelah ajaran itu selesai, aku melihat ketampanan dan kewibawaan Paduka, wahai Panembahan.”
Sukesi pun mendekat dan merangkul Begawan Wisrawa. Meskipun seorang brahmana, sang pandita dari Deder Penyu itu tetaplah manusia yang tak luput dari kelalaian dan dosa. Melihat kecantikan serta kemolekan tubuh Sukesi, Begawan Wisrawa tak mampu menahan diri.
Dalam suasana sunyi, kelalaian pun hadir. Sang Begawan hanyut dalam asmara dan nafsu birahi.
Peristiwa itu diketahui oleh Gohmuka, orang kepercayaan Danapati yang ditugaskan untuk mengawasi ayahnya, Wisrawa.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani