Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Lakon Wayang Wisanggeni Takon Bapa 5 Habis, Satria Perkasa Itu Hanyalah Anak yang Merindukan Orang Tuanya

Ki Damar • Selasa, 14 April 2026 | 19:01 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Wisanggeni
Ilustrasi tokoh wayang Wisanggeni

Cerpen Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Batara Guru kewalahan melawan Wisanggeni, hingga ia mengeluarkan senjata andalannya, panah Cundamanik.

Namun, karena Cundamanik mengetahui bahwa Batara Guru berada di pihak yang salah, pusaka itu tidak mau keluar dan tetap berada di tempatnya.

Batara Guru pun akhirnya menyerah, karena senjata andalannya tak mampu melawan Wisanggeni.

Tak lama kemudian, datanglah Semar.

“Apakah kau sudah tobat? Apakah kau mengakui bahwa kau telah bersalah?” tanya Semar.

Mendengar suara yang tak asing itu, Batara Guru bangkit lalu memeluk kakaknya.

“Aduh, Kakang Semar, maafkan aku. Aku salah dan ingin bertobat. Semua ini kulakukan karena permintaan Batari Durga, yang ingin menikahi Dresanala.”

“Kau ini penguasa para dewa dan kahyangan, namun tidak mampu menahan hawa nafsu. Yang ada justru mengumbar nafsu. Jika sudah begini, mau bagaimana lagi?” tegur Semar.

Baca Juga: Batal Nikah, Rumah Rp150 Juta di Ngawi Dirobohkan Pakai Ekskavator

“Aku pasrah, Kakang. Bantulah aku keluar dari masalah ini,” pinta Batara Guru dengan tulus.

“Ada jalan menuju ketenteraman. Jika kau menyatukan kembali Arjuna dengan Dresanala, serta mempertemukan Wisanggeni dengan kedua orang tuanya, maka itu akan menyelamatkan dirimu dan kahyangan dari kehancuran. Bayangkan, anak sekecil itu sudah memiliki kekuatan yang luar biasa.”

“Baiklah. Dengan ajian Puter Giling, Arjuna, Dresanala, dan Wisanggeni akan kukumpulkan di hadapanku, Kakang.”

Dengan mengucapkan mantra ajian Puter Giling, Arjuna, Dresanala, dan Wisanggeni pun dipertemukan. Mereka saling berpelukan.

“Maafkan aku, Janaka dan Dresanala. Aku akan menyatukan kalian kembali,” ucap Batara Guru.

“Wah, ayah dan ibuku tampan dan cantik ya, Semar,” kata Wisanggeni polos.

“Eh, gunakan panggilan ‘Mbah’. Mbah Semar,” jawabnya.

Semua pun tersenyum bahagia. Kahyangan kembali damai.

(*/naz)

*Penulis merupakan dalang wayang kulit dan alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Lakon wayang #cerpen #Wisanggeni