Oleh: Ki Damar*
Anoman yang sedang meninjau pembangunan di berbagai tempat tidak sendirian. Ia ditemani oleh Tumenggung Brawejaya, salah satu senopati Mandura.
“Sangat cepat sekali pembangunan ini, Raden Anoman. Aku yakin Sinuwun Mandura pasti akan senang karena pekerjaan akan selesai lebih cepat dari jadwal seharusnya.”
“Jangan senang dahulu, Raden Brawejaya. Kita tidak tahu bagaimana ke depannya. Cuaca juga memengaruhi. Belum lagi jika material yang kita butuhkan terlambat datang, itu juga akan berdampak pada penyelesaian pembangunan. Jadi, jangan dipastikan akan cepat sebelum semuanya benar-benar selesai,” kata Anoman dengan bijak.
Tak lama kemudian, datanglah Prebawa. Ia melihat-lihat sekeliling dengan raut wajah yang tampak tidak senang terhadap Anoman.
Baca Juga: Cerpen Patih Prebawa Mbalela, Lakon Wayang Bagian 1: Balada Proyek Prestisius Mandura
Sebuah ember berisi semen ditendangnya. “Aduh, siapa yang menaruh ini di sini? Hai, kalian bisa bekerja atau tidak?”
Melihat itu, Anoman menghela napas lalu bertanya kepada Brawejaya, “Siapa dia, Raden?”
“Oh, dia adalah patih luar istana Negara Mandura, namanya Patih Prebawa. Maafkan dia, Raden. Baru kali ini aku melihatnya seperti itu. Biasanya dia lugu, polos, bahkan konyol. Aku tidak tahu mengapa akhir-akhir ini dia berubah.”
Prebawa pun menghampiri Anoman.
“Oh, kamu Anoman itu, ya? Bagus pembangunannya. Namun, apakah kamu yakin tidak ada yang kamu kurangi dalam pembangunan ini? Bagaimana takaran semen dan pasirnya? Atau terlalu banyak air? Aduh, kalau tidak pas, negara bisa rugi. Bangunan yang tidak sesuai takaran akan cepat rusak dan roboh. Kau tahu hal itu, bukan? Apalagi kamu sudah berpengalaman.”
“Iya, Raden Patih. Hamba tahu, dan semua sudah sesuai takaran. Tidak ada yang dikurangi.”
(*/naz)
*Penulis merupakan alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani