Oleh: Ki Damar*
“Apakah semua sudah kau siapkan, hai Purucona?” tanya Patih Astina, Raden Sengkuni, yang tengah bersiasat membunuh Pandawa di Hutan Waranawata.
“Raden Patih, semua sudah siap sesuai instruksi paduka. Namun, berkaitan dengan cara membuat Pandawa tak sadarkan diri, hamba belum mengetahuinya,” jawab Purucona.
Purucona adalah kepala pembangunan Bale Gala-gala.
Ia memegang tanggung jawab besar dan diberi wewenang dalam pelaksanaan kebijakan tersebut.
“Jangan khawatirkan hal itu. Pandawa sangat suka makan, apalagi si Bima. Ia seorang satria, namun makannya banyak. Jadi, jangan pusing. Beri saja mereka makanan yang enak. Katakan bahwa ini makanan bergizi dan penuh vitamin. Namun, jangan lupa, katakan kepada para pramusaji untuk mencampurkan racun ke dalam makanan.”
Baca Juga: Cerpen Patih Prebawa Mbalela, Lakon Wayang Bagian 1: Balada Proyek Prestisius Mandura
“Waduh, Raden Patih, apakah ini bukan hal yang berbahaya? Pandawa adalah orang-orang yang pandai dan berpendidikan. Bagaimana bila mereka menyadari bahwa makanan mereka telah diracuni?”
Sengkuni mendekat, lalu membisikkan rencananya kepada penanggung jawab pembangunan itu. “Jangan khawatir. Sebelum mereka makan malam, aku akan membuat mereka mabuk, sehingga mereka kehilangan kewaspadaan, hahaha.”
Purucona, meskipun seorang kepercayaan baru, tidak ingin mengecewakan Patih Astina. Ia tahu bahwa ini adalah proyek besar.
“Baiklah, Raden Patih. Hamba sendika dawuh. Namun, mengapa mereka harus diberi makanan beracun terlebih dahulu, Sang Patih? Mengapa tidak menunggu mereka tertidur pulas, lalu bale itu kita bakar saja?”
Sengkuni kembali tertawa, melihat keluguan Purucona yang jahat itu. “Kamu ini lugu atau bodoh, hai Purucona?”
(*/naz)
*Penulis merupakan alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani