Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Dianggap Tokoh Wayang Kurang Populer, Padahal Sadewa Berhasil Jaga Wahyu Kalimasada

Ki Damar • Jumat, 5 Juni 2026 | 14:53 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Sadewa. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi tokoh wayang Sadewa. (RADAR MADIUN)

Jawa Pos Radar Madiun - Sadewa merupakan putra bungsu dari keluarga Pandawa sekaligus saudara kembar dari ksatria tampan bernama Nakula.

Dalam pewayangan Jawa, ia dikenal luas sebagai tokoh yang dikaruniai kecerdasan luar biasa dan kebijaksanaan yang mendalam.

Ksatria ini dianugerahi kemampuan mistis untuk membaca pertanda zaman secara presisi dan akurat.

Sosoknya lantas menjelma menjadi lambang kekuatan ilmu pengetahuan, ketenangan batin, serta kecermatan dalam mengambil setiap keputusan.

Meski hidupnya seolah berada di bawah bayang-bayang kebesaran kakak-kakaknya, Sadewa sejatinya memiliki peran yang tak kalah vital.

Bersama kembarannya, ia selalu setia menemani dan mengamati dengan jeli setiap kebijakan pemerintahan di Kerajaan Amarta.

Di antara kelima Pandawa, ksatria bungsu inilah yang secara aklamasi diakui sebagai sosok paling cerdas dan bijak.

Ia dianugerahi kekuatan istimewa sebagai seorang ahli pengobatan tradisional yang kehebatannya tersohor di mana-mana.

Berkat kemampuannya tersebut, Kerajaan Amarta sukses menjadi tolak ukur dan kiblat bagi negara-negara lain di bidang medis.

Baca Juga: SPMB SD-SMP Ngawi Dibuka, Nilai TKA Jadi Penentu Tambahan Jalur Prestasi

Ahli Strategi Perang Penakluk Sengkuni

Selain cerdas secara akademis dan medis, Sadewa ternyata juga memiliki kekuatan yang sangat mengerikan di bidang keprajuritan.

Ia merupakan ksatria yang sangat tangguh karena menguasai teknik olah krida peperangan menggunakan senjata pedang.

Bahkan dalam epik Mahabharata di India, Sadewalah yang sukses mengeksekusi mati Patih Sengkuni di medan pertempuran.

Kematian di ujung pedang Sadewa itu akhirnya menyudahi riwayat sosok zalim dan angkuh yang selama ini membuat Pandawa sengsara.

Fakta tersebut membuktikan bahwa di balik jarangnya ia muncul dalam kisah, Sadewa sejatinya adalah ahli strategi perang yang mematikan.

Kemampuannya di medan tempur juga terbukti saat ia turut berjuang mengantarkan Pandawa meraih kemenangan di Perang Bharatayuda.

Kecerdasan otak Sadewa yang disebut-sebut setara dengan Batara Kresna membuatnya sering mendapat mandat istimewa.

Ia kerap dipercaya Kresna untuk mengambil kebijakan penting saat sang dewa tersebut berhalangan hadir dalam rapat Amarta.

Itulah sebabnya Sadewa selalu menempel ketat pada kakaknya, Puntadewa, yang terkadang memiliki sifat terlalu penurut kepada bawahannya.

Sifat Puntadewa yang tidak tegaan dan enggan menolak saran orang lain sering kali membuat sang raja bimbang mengambil keputusan.

Di sinilah peran krusial Sadewa hadir untuk memberikan pencerahan tegas demi menyelamatkan muruah kerajaan.

Peristiwa ini terekam sangat jelas saat musuh berniat meminjam pusaka sakti Jamus Kalimasada dengan dalih untuk dijadikan tumbal tolak bala.

Sadewa dengan tegas mengingatkan bahwa pusaka tersebut adalah panutan negara, sehingga Puntadewa akhirnya urung meminjamkannya.

Keteguhannya juga terekam abadi dalam lakon Sudamala, di mana ia sukses membebaskan Dewi Durga dari kutukan kembali menjadi Dewi Uma.

Berkat kesuksesannya memutus kutukan tersebut, Sadewa akhirnya memperoleh berbagai anugerah kekuatan spiritual dari kahyangan.

Dalam tradisi ruwatan Jawa, tokoh Sadewa juga sangat identik dengan lakon Ngruwat Murwakala untuk membersihkan berbagai pengaruh buruk.

Pada akhirnya, kelima ksatria Pandawa ini bukan sekadar tokoh cerita pewayangan biasa, melainkan simbol nilai kehidupan yang sangat agung.

Puntadewa melambangkan keadilan, Bima mewakili keberanian, Arjuna sebagai kesempurnaan diri, Nakula dengan kesetiaannya, dan Sadewa menjadi simbol kebijaksanaan.

Ksatria bungsu ini mengajarkan bahwa kecerdasan yang dibalut dengan kerendahan hati adalah kekuatan terbesar yang mengalahkan senjata apa pun. (*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Pandawa #nakula #sadewa #wayang #Sengkuni