Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Di sebuah gubuk kecil, Wisangkara berkumpul bersama beberapa warga.
“Kalau kita terus diam, kita akan habis,” katanya.
Seorang wanita menjawab, “Tapi melawan berarti mati.”
Wisangkara menggeleng.
“Kalau diam, kita juga akan mati. Hanya saja lebih lama.”
Suasana menjadi sunyi.
Lalu satu per satu warga mulai mengangguk. Kesadaran itu tumbuh perlahan, seperti nyala api kecil di tengah kegelapan.
Di tengah penderitaan tersebut, datanglah seorang ksatria besar: Bima atau Werkudara.
Langkahnya berat. Tanah seakan bergetar setiap kali ia melangkah.
Rakyat segera bersimpuh.
“Wahai Werkudara, tolonglah kami!”
Bima menatap mereka. Matanya tajam, tetapi tidak dipenuhi kebencian.
“Aku tidak datang untuk memberikan belas kasihan,” katanya tegas.
“Aku datang untuk menegakkan kebenaran.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Jika ada raja yang memakan hak rakyatnya, maka ia bukan lagi seorang raja. Ia adalah penyakit bagi negerinya.”
Kabar tentang kedatangan Bima segera sampai ke istana.
Prabu Baka tersenyum sinis.
“Seorang ksatria?” gumamnya.
Ia berdiri dari singgasananya.
“Tidak ada manusia yang mampu menandingi kekuasaanku.”
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Prabu Baka tidak dapat tidur nyenyak.
Ada sesuatu yang mengusik pikirannya.
Bukan pedang. Bukan pasukan. Melainkan kata-kata tentang kebenaran.
Di gerbang istana, Bima telah berdiri menantang. Prabu Baka pun muncul.
“Siapa kau?” suara Prabu Baka menggelegar.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani