Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
“Aku tidak datang untuk meminta apapun.”
“Aku hanya ingin melihat apakah masih ada Sucitra di dalam dirimu.”
Drupada berteriak lebih keras.
“Dia sudah mati!”
Kumbayana menunduk pelan.
“Kalau begitu, yang duduk di singgasana itu hanyalah kulit kosong.”
Langkah kaki yang berat terdengar.
“CUKUP!”
Gandamana maju.
Baca Juga: Honda Lahirkan Kembali Legenda CB1000F, Padukan Tampilan Klasik dan Performa Superbike
“Jangan hina raja di hadapan istana ini!”
Kumbayana menatapnya tenang.
“Aku tidak menghina. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”
“Kejujuranmu tidak berguna di sini!”
Drupada berkata dingin,
“Usir dia.”
Gandamana tidak lagi menahan diri.
Tinju pertama menghantam dada Kumbayana.
BRUK!
“Pergi dari sini!”
Pukulan demi pukulan menghujani tubuhnya. Kumbayana tidak melawan. Ia hanya berkata lirih,
“Aku datang sebagai saudara, bukan musuh...”
Namun tidak ada yang mendengar.
Dari singgasana, Drupada hanya menonton.
Seseorang berbisik,
“Baginda, hentikan ini...”
Drupada menjawab dingin,
“Biarkan.”
Kata itu menjadi luka yang lebih dalam daripada pukulan apapun.
Baca Juga: Lebih Sporty! Intip Ubahan dan Spesifikasi Lengkap Suzuki Fronx Sport yang Dijual Rp 455 Jutaan
Kumbayana terjatuh. Tubuhnya penuh luka. Namun, ia bangkit perlahan.
Matanya berubah tajam.
“Aku bersumpah...”
Semua terdiam.
Keheningan Istana Pancala membuat para raja yang hadir menatap serius sosok Kumbayana yang bersimbah darah dengan tubuh penuh luka dan tulang yang patah. Mereka merasa iba kepada putra Bharadwaja dari Atas Angin itu. Kedatangannya yang tulus justru berakhir dengan hancurnya sebuah persahabatan.
Kumbayana menatap lurus ke arah singgasana.
“Takhta ini akan menjadi saksi kehancuran harga dirimu.”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani