Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Langit Amarta tampak muram sejak beberapa bulan terakhir. Sawah-sawah tidak lagi menghasilkan panen sebanyak dahulu. Harga bahan pangan terus naik di pasar.
Rakyat mulai mengeluh. Di beberapa daerah bahkan terdengar kabar bahwa para petani meninggalkan ladangnya karena biaya produksi lebih tinggi daripada hasil yang mereka dapatkan.
Di pendapa kerajaan, Prabu Puntadewa duduk termenung.
Di hadapannya berkumpul para Pandawa. Tidak ada suara gamelan. Tidak ada tawa.
Yang terdengar hanyalah helaan napas panjang para pemimpin negeri yang sedang memikirkan nasib rakyatnya.
“Kakang,” ujar Bima memecah keheningan, “rakyat mulai menjerit. Harga pangan naik setiap hari. Bila keadaan ini terus berlangsung, Amarta akan menghadapi kesulitan yang lebih besar.”
Puntadewa mengangguk pelan. “Aku mengetahui hal itu, Dimas. Namun, aku belum menemukan jalan keluar yang terbaik.”
Arjuna yang sedari tadi diam akhirnya berbicara. “Mungkin sudah saatnya kita membuka lahan baru.”
Baca Juga: Kirab Pusaka Ponorogo, DLH Kerahkan 237 Petugas Antisipasi Sampah Menumpuk
Semua mata tertuju kepadanya. “Apa maksudmu?” tanya Puntadewa.
Arjuna menunjuk peta wilayah Amarta. “Hutan-hutan di bagian utara masih sangat luas. Sebagian kecil saja ditebang untuk dijadikan ladang pangan.”
Nakula langsung mengangkat kepala. “Aku tidak setuju.”
Sadewa yang duduk di samping saudara kembarnya ikut mengangguk. “Aku juga tidak setuju.”
Arjuna mengernyit. “Mengapa?”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani