Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Nakula menjawab dengan tegas. “Karena itu bukan solusi. Itu hanya memindahkan masalah.”
Sadewa melanjutkan, “Hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Hutan adalah sumber air. Hutan adalah rumah bagi satwa. Hutan adalah penyangga kehidupan.”
Arjuna masih bertahan pada pendapatnya.
“Namun, rakyat membutuhkan pangan.”
Nakula menatap kakaknya. “Dan karena kebutuhan pangan, lalu kita mengorbankan hutan?”
“Aku hanya mengusulkan sebagian kecil,” jawab Arjuna sambil menatap Nakula.
Sadewa menggeleng. “Eksploitasi selalu dimulai dari kata ‘sebagian kecil’.”
“Hari ini sebagian kecil. Besok sebagian lagi. Lalu anak cucu kita hanya akan mewarisi tanah yang gersang.”
Baca Juga: Cerpen Wejangan Semar 1: Amarta Terancam Krisis Pangan
Arjuna mulai terpancing.
“Kalau begitu, apa yang harus dilakukan? Membiarkan rakyat kelaparan?” katanya dengan nada yang mulai meninggi.
“Tidak,” jawab Nakula.
“Lalu?”
“Masih banyak lahan tidur yang tidak produktif. Ada lahan kosong milik negara, lahan terlantar, dan lahan bekas tambang. Mengapa bukan itu yang diperbaiki?”
Sadewa menambahkan,
“Alam bukan musuh manusia. Jika kita merusaknya demi menyelesaikan masalah hari ini, berarti kita sedang menyiapkan bencana yang lebih besar di masa depan.”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani