Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
"Kau ingin membela rakyat. Itu adalah niat yang mulia."
"Tetapi ketika kau mengambil hak untuk menghukum tanpa aturan, sesungguhnya kau sedang berjalan di jalan yang sama dengan orang yang kau benci."
Ucapan itu membuat Narayana termenung cukup lama.
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
Begawan Padmanaba menatap muridnya dengan penuh kasih.
"Perangi kejahatan tanpa menjadi jahat."
"Bagaimana caranya, Guru?"
"Tegakkan hukum. Ungkapkan kebenaran. Bela rakyat. Tetapi jangan mengambil hak untuk mengadili yang bukan menjadi wewenangmu."
Angin sore berembus lembut. Kata-kata itu menancap kuat di hati Narayana.
Sejak hari itu, Narayana menjadi murid Begawan Padmanaba. Ia mempelajari ilmu pemerintahan, ilmu kepemimpinan, ilmu perang, serta berbagai kesaktian.
Namun, pelajaran yang paling berharga bukanlah kesaktian, melainkan kebijaksanaan.
Suatu hari, Begawan Padmanaba berkata kepada muridnya.
"Ingatlah, Narayana."
Begawan Padmanaba menatap Narayana dengan tatapan lembut dan menyejukkan.
"Kesatria besar bukanlah orang yang mampu mengalahkan seribu musuh."
Narayana menundukkan kepala dengan hormat.
"Lalu siapa, Guru?"
Begawan Padmanaba tersenyum.
"Orang yang mampu mengalahkan amarah dalam dirinya sendiri."
Sejak saat itu, Narayana meninggalkan jalan kebegalan. Ia mengabdikan dirinya untuk membantu Prabu Baladewa membersihkan Mandura dari para pejabat korup melalui cara yang benar.
Sejak itulah rakyat mengenangnya bukan sebagai seorang begal, melainkan sebagai kesatria yang menemukan jalan kebijaksanaan demi menegakkan kebenaran dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani