Cerpen Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Dendam hanya membunuh orang yang masih hidup.
Menjelang akhir hidupnya, Sri Kresna datang menghampiri Aswatama.
Aswatama menatap beliau dengan mata yang telah redup.
"Kresna..."
"Aku telah menjalani semua kutukanmu."
"Aku kehilangan segalanya."
Sri Kresna menjawab dengan lembut.
"Bukan aku yang mengambilnya. Engkaulah yang melepaskannya satu demi satu karena memilih memelihara kebencian."
Aswatama menangis.
Baca Juga: BPBD Kabupaten Madiun Petakan 20 Titik Rawan Kemarau, Hingga Kini Zero Laporan Bencana
"Apakah masih ada harapan bagiku?"
Sri Kresna mengangguk perlahan.
"Selama penyesalanmu lahir dari hati yang tulus, Tuhan tidak pernah menutup pintu kasih-Nya."
Aswatama tersenyum tipis. Ia menangkupkan kedua tangannya.
"Semoga tidak ada lagi manusia yang hidup untuk membalas dendam seperti diriku."
Setelah mengucapkan kalimat itu, napasnya pun terhenti.
Angin berembus pelan, membawa guguran daun-daun kering.
Sri Kresna menundukkan kepala. Lalu beliau berkata kepada Pandawa,
"Yayi Prabu, ingatlah. Musuh yang paling berbahaya bukanlah orang yang membawa senjata, melainkan kebencian yang dibiarkan tumbuh di dalam hati. Sebab, ketika dendam menjadi pemimpin, manusia akan kehilangan akal, kehormatan, bahkan dirinya sendiri."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani