Cerpen Wayang oleh Ki Damar*
Sri Kresna kemudian memanggil Werkudara secara diam-diam.
"Yayi Werkudara, bila nanti Kakangmas Baladewa datang menantangmu, jangan melawan. Berdirilah di tempatmu. Apa pun yang terjadi, jangan bergerak sebelum aku memerintah."
Werkudara mengernyitkan dahi.
"Kakang Prabu, bagaimana bila diriku diserang?"
Sri Kresna tersenyum tenang.
"Percayalah kepadaku. Lakukan saja apa yang kuperintahkan."
Meski belum memahami maksudnya, Werkudara akhirnya menyembah.
"Baik, Kakang Prabu."
Baca Juga: Pencarian Berakhir Duka, Anggota Polres Katingan Ditemukan Mengapung di Sungai
Tak lama kemudian, Baladewa datang ke sebuah padang luas sambil membawa pusaka Nenggala. Suaranya menggelegar membelah angin.
"Werkudara! Bila benar engkau merasa lebih hebat dariku, buktikan sekarang!"
Werkudara hanya menangkupkan tangan.
"Kakang Prabu, aku tidak pernah berkata demikian."
Namun, Baladewa yang telah dipenuhi amarah tidak lagi mendengarkan penjelasan. Ia segera mengangkat pusaka Nenggala tinggi-tinggi.
Langit mendadak gelap. Angin berputar kencang. Tanah bergetar seakan ikut gentar menyaksikan kesaktian Raja Mandura.
Dari kejauhan, Sri Kresna memperhatikan semuanya dengan hati yang berat. Beliau berbisik lirih,
"Belum... belum saatnya..."
Ketika Nenggala hampir menghantam kepala Werkudara, Sri Kresna berseru lantang,
"Sekarang, Yayi Werkudara! Menghindarlah!"
Seketika Werkudara melompat ke samping. Pusaka Nenggala menghantam bumi dengan dentuman yang sangat dahsyat.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani